Disorot Warga, Pengawas SPBU Ampibabo Mengaku Tak Paham Aturan

Tampak antrian kendaraan di SPBU Ampibabo. (foto/Hasbi)

PARIMO, beritasulteng.com- Sudah hampir seminggu, warga di seputaran Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parimo, dilanda krisis bahan bakar minyak (BBM). Kelangkaan tersebut disebabkan pelayanan yang disebut mengutamakan pembelian menggunakan jerigen.

Hal itu diungkapkan salah seorang warga bernama Amrin (41), karena merasa kesal dengan pelayanan yang diterapkan pihak SPBU Ampibabo. Amrin, juga mengatakan, Meski pasokan BBM diklaim lancar, namun masyarakat tetap saja sulit mendapatkan BBM langsung dari SPBU tersebut.

Jawaban yang didapatinya dari pihak SPBU terkait pelayanan kepada para pembeli yang menggunakan Jerigen kata dia, alasannya dikarenakan tidak ada pembatasan untuk pengisian dalam wadah pelastik atau jerigen.

“Pengisian BBM di SPBU Ampibabo relatif tidak normal dan diiringi dengan antrian yang panjang,” ungkapnya kepada Media ini, Minggu (2/6).

Senada dengan Amrin, Sekdes Ampibabo Utara, Azhar Y.H Yoto, menyebutkan, BBM bersubsidi jenis solar dan bensin sudah jelas dilarang untuk pengisian galon, apalagi pembeli tersebut  menggunakan kendaraan roda empat dengan bak terbuka, ditambah lagi yang berasal dari luar Ampibabo.

Menurutnya, pengawasan dari pihak Pertamina sangat lemah, dan patut untuk dicurigai. Sambung dia, jangan-jangan ada negosiasi antara oknum-oknum nakal demi meraup keuntungan pribadi.

“Aneh, baru saja diisi oleh mobil tanki, tapi 3 jam kemudiansudah habis. Padahal banyak masyarakat yang menggunakan kendaraan, dan sudah berjam-jam mengikuti antrian, tapi tetap saja tidak mendapatkan bahan bakar,” ujar Azhar.

Sementara itu, Pengawas pertamina Ampibabo, Aksan P, ketika dikonfirmasi Terkait praktik nakal tersebut, Dia mengaku tidak mengetahui bahwa di SPBU tempatnya bertugas, marak terjadi pengisian Jerigen yang mengakibatkan antrian kendaraan yang sangat panjang.

foto : istimewah

Anehnya, saat ditanyakan terkait aturan yang mengatur tentang pembelian menggunakan wadah pelastik, dia mengatakan bahwa belum mengetahui pasti tentang larangan itu.

“Saya tidak tahu kalau masalah pengisian galon, karena yang mengetahui itu semuanya adalah oprator, yang saya tahu, pembeli menggunakan jerigen itu adalah para nelayan. Kalau masalah aturan larangan pengisian galon sy tidak tahu,” ungkapnya

Begitupun dengan kabar adanya upah yang harus diberikan oleh pembeli menggunaan jerigen kepada operator sejumlah Rp.10000/jerigen, dirinya juga mengaku tidak mengetahui pasti

“Saya tidak tahu menahu masalah uang pengisian berapa pergalonnya, karena saya sebagai pengawas tidak dapat bagian dari situ, itu semua opratornya yang terima,” ujar Aksan. Abi



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *