Banyak Kendala, Renovasi Gedung di Untad Tetap Lanjut

Banyak Kendala, Renovasi Gedung di Untad Tetap Lanjut
Proses rehab salah satu gedung Universitas Tadulako (UNTAD), Sulawesi Tengah. (foto/ist)

Faozan-beritasulteng.com | Senin, 6 April 2020

PALU, beritasulteng.com- Renovasi sejumlah gedung di Universitas Tadulako (Untad) tuai banyak kendala. Walau demikian, proses pembangunan tetap berlanjut.

Bacaan Lainnya

Renovasi gedung milik Untad di Sulawesi Tengah ini merupakan pemulihan dari dampak gempa bumi pada 28 September 2018. Seperti diketahui, gara-gara tanah goyang itu, sejumlah bangunan di perguruan tinggi kebanggaan Sulawesi Tengah ini banyak mengalami kerusakan. Mulai rusak ringan, sedang maupun berat.  

Ditemui peliput di ruang kerjanya belum lama ini, Kepala Balai Pekerjaan Umum, Penataan Ruang Prasarana Pemukiman Wilayah (BPUPRPPW) Sulawesi Tengah, Ferdinan Kanalo, mengatakan sejumlah kegiatan pekerjaan di Untad terus dilaksanakan.

“Tiga jenis kerusakan terdapat di Untad, dan kita menanganinya berdasarkan skala prioritas yaitu, perbaiki dulu rusak ringannya, supaya bisa dijadikan ruang kelas. Dan sudah ada yang selesai dikerjakaan,” ujarnya.

Katanya, walau rintangan yang dijumpai pada rehabilitasi sejumlah infrasrtuktur tidak menjadi aral yang menyurutkan semangat dalam pembangunan. Semua itu dilakukan menurut Ferdinan, demi mengembalikan wajah ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah.

“Memang dalam penanganan sejumlah infrastruktur yang ditangani bukan perkara mudah. Selain persoalan aturan, kami juga diperhadapkan dengan persoalan sosial,” katanya. “Dan Ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Misalkan harus ada uji forensik terlebih dahulu untuk memastikan kelayakan struktur tanah,” tambahnya.

Ferdinan menambahkan, sumber daya tenaga berkompeten dan penganggaran juga menambah rentetan kompleksnya persoalan renovasi gedung Untad. “Contohnya, keberadaan konsultan yang ada dengan lingkup kerja yang cukup luas. Sementara itu, upaya penambahan konsultan pun telah dilakukan. Namun, keberadaannya belum bisa berfungsi secara efektif. Walau sudah ada upaya mengikat kontrak, tapi belum bisa berfungsi efektif karena alokasi anggaran DIPA kita belum cukup,” jelasnya.

Selain itu sebut dia, persoalan sosial yang harus dihadapi seperti Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) serta tidak adanya Master Plan yang di pegang pihak Untad saat ini, juga menjadi salah satu faktor penghambat. Dia menuturkan, kisruh pembangunan di Untad sama seperti yang terjadi di Kelurahan Tondo dan Kelurahan Talise.

“Secara hukum, soal tanah sudah selesai, hanya saja masih ada persoalan sosial yang muncul dari masyarakat. Bersyukur, Pemkot Palu telah menemukan sulusinya,” sebutnya.

Dalam target, menurutnya, renovasi gedung  di Untad dapat selesai paling lambat tahun 2021 nanti.

“Kalau tahun lalu kita temui jalan buntu untuk berbuat. Mau kesini Amdal tidak ada, mau kesana Master Plannya tidak ada. Urusan di Palu adalah urusan kita bersama, tidak ada yang lalai. Kalau Cuma minta Balai yang urus semua itu susah,” tegasnya.

Diketahui kegiatan renovasi gedung Untad tahun 2019 lalu, pihak BPPW telah menyelesaikan sebanyak 51 bangunan rusak ringan. Sedangkan, sejumlah kegiatan pembangunan gedung serbaguna, renovasi gedung Untad sementara dalam proses lelang.

“Ada sepuluh pembangunan gedung serbaguna. Sembilan gedung totalnya bernilai sekitar Rp 80 miliyar. Sedangkan 2 gedung bernilai sekitar Rp 20 miliyar,” tutupnya.

Untuk tahun ini, anggaran yang dikelolah pada pekerjaan tersebut seniali 288 miliar rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *