Cegah Penularan Covid-19, Dishub Parimo Rekayasa Lalin

Joni Tagunu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Parigi Moutong

Penulis: Andi Sadam

PARIMO, beritasultenbg.com– Sudah lebih dari satu bulan, Dinas Perhubungan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, fokus di aksi penanggulangan Covid-19. Upaya dinas yang dinahkodai Joni Tagunu itu tidak lain merujuk pada intruksi pemerintah pusat, provinsi hingga kabupaten dalam tujuan memberantas corona virus.

Bacaan Lainnya

banner 970x90

Ditemui beritasulteng.com di posko terminal Toboli, Kecamatan Parigi Utara, Joni Tagunu menyebut bahwa saat ini telah dilakukan kembali rekayasa lalulintas (Lalin). Bentuk rekayasa Lalin itu menurut Joni dilakukan beberapa versi di sejumlah titik. Dari pengalihan lalulintas hingga buka tutup jalan.

Salah satau titik pengalihan arus Lalin yakni di Terminal Toboli. Setiap kendaraan, baik roda dua maupun empat, yang melintas di jalur itu diarahkan masuk terminal. Dalam terminal dilakukan pemeriksaan suhu badan hingga penyemprotan disinfektan.

“Dalam aksi penanggulangan ini kami hanya sebatas bertindak sebagaimana tupoksi, yakni mengatur Lalin. Dan sekarang ini, atas kebijakan pemerintah, kami kembali memberlakukan system buka tutup jalan di perbatasan Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Donggala,” ungkap Joni.

Disebutkannya, jadwal buka tutup tersebut berlaku setiap hari, yaitu tutup pada pukul 19.00 s/d 07.00 Wita. Durasi dari pukul 07.00 pagi hingga pukul 19-00 petang, dibuka. “Artinya kendaraan boleh keluar masuk Parigi Moutong hanya siang hari, atau dari pagi sampai sore,” jelasnya.

Upaya merekayasa Lalin sebelumnya sudah dilakukan, namun diubah dan sempat tidak diberlakukan karena saat itu masih dalam tahap survey untuk pematangan kebijakan selanjutnya, seperti yang sudah dilakukan saat ini.

Harapannya, pemberlakuan system buka tutup jalan bisa mencegah penyebaran Covid-19. Apalagi saat ini di Kabupaten Parigi Moutong masih berstatus negatif terkait corona virus. Tujuan lain dari kebijakan merekayasa Lalin, kata Joni, mencegah terjadinya pemudik dari luar Kabupaten Parigi Moutong. “Salah Satu penyebab penularan virus itu melalui pemudik, yang mungkin tanpa mereka sadari bahwa mereka sedang terpapar, atau dalam istilahnya Orang Tanpa Gejala (OTG),” jelasnya.

Joni menambahkan, bagi pendatang yang berurusan di Parigi Moutong yang tidak menginap, akan ‘disita’ KTP-nya. Dan KTP tersebut boleh diambil bila hendak pulang atau meninggalkan Parigi Moutong. Waktu mengambil KTP pun dibatasi hingga puku 17.00 Wita. “Kalau sampai jam 5 sore tidak mengambil KTP, maka dinyatakan menginap. Dan bagi yang menginap, tiada alasan untuk tidak mau dikarantina, di fasilitas yang sudah disediakan pemerintah,” urai Joni.

banner 728x130

MAU KAOS KEREN? atau HOODIE JUMPER (SWEATER) DISTRO? atau TOPI HIP HOP? Cukup tinggalkan komentar, dan bagikan Artikel-Artikel terbitan Beritasulteng.com. Cenderamata diserahkan ke penerima terpilih pada 30 September 2020.