Ibunya Ditolak di Kios Tetangga, ODP di Ulatan Tersinggung

Gugus relawan Covid-19 Desa Ulatan dalam suatu kegiatan. (F. Miftahul Afdal)

Penulis: Fadel | Editor: Andi Sadam

PARIMO, beritasulteng.com– Salah seorang warga Desa Ulatan, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng, mendadak jadi topik sejumlah warga setempat, Gara-gara digunjing, pria yang masih berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP) itu merasa tersinggung. Reaksi orang-orang yang dianggapnya berlebihan sehingga muncul ketersinggungan dari laki-laki berinisial GF itu.

Bacaan Lainnya

banner 970x90

Dalam curhatan GF kepada Berita Sulteng, Senin, 4 Mei, reaksi berlebihan yang memunculkan ketidaknyamanan, karena orang tuanya terbawa-bawa. Padahal menurutnya, yang berstatus ODP karena dari Kota Palu, adalah dirinya sendiri, bukan ibunya.

GF mengungkap, pasca tiba di kampung pada Sabtu pekan lalu, ia disarankan melakukan isolasi mandiri, selama 14 hari kedepan. Kini, proses karantina sedang ia jalani. Dan selama tahap karantina, GF berujar, tidak terlibat kontak fisik dengan orang lain.

Katanya, sah-sah saja warga heboh dengan kedatangannya dari kota Palu. Karena itu bagian dari sikap antisipatif warga terhadap virus corona. Namun, upaya mawas diri itu menurutnya tidak berarti lebay.

Aksi bar-bar sejumlah warga, menurut penuturan GF, menonjol ketika ibunya hendak berbelanja di salah satu kios, tidak terlayani sebagaimana biasanya. “Dalam hatiku merasa apakah saya sudah ada virus sampai ibu saya pun yang tidak dari Kota Palu, juga diperlakukan seperti itu,” ucapnya.

GF berpendapat, mungkin warga mengira kalau ia tidak memahami betul tentang karantina mandiri. Apalagi GF diketahui banyak orang, saat ini tinggal serumah dengan ibunya. “Mungkin dipikir tetangga, saya kan satu rumah dengan mama jadi sampai mama saya juga dihindari,” pikirnya.

Ia menambahkan, di masa isolasi tersebut ia dipantau secara intensif oleh petugas kesehatan di Kecamatan Palasa. Dari hasil tes suhu tubuh, katanya, ia dalam kondisi normal. Pun dengan gejala-gejala bila terpapar Covid-19, tidak ditemukan di dirinya.

Kisah ‘tersisihkan’ oleh warga komplek di kampungnya, turut jadi bagian catatan pada dinding facebooknya. Lewat akun pribadi, GF menulis sepenggal kalimat yang mengilustrasikan kebimbangan. “Lama-lama ini bukan mati karena corona tapi mati karena kelaparan apa tidak ada menerima penjual disini,” tulisan GF di medsos.

Menanggapi peristiwa tersebut, Ketua Tim Relawan Covid-19 Desa Ulatan, Idzhar Lasau, memastikan sudah mendata bahkan menangani GF sebagai ODP. Tentang reaksi yang mungkin dinilai berlebihan dari sejumlah warga terhadap keluarga GF, menurut penilaian Idzhar, itu bagian dari aksi pencegahan terhadap orang yang baru pulang dari daerah terpapar.

“Saya kira warga juga was-was di tengah situasi pandemi Covid-19. Yang bersangkutan tinggal satu rumah dengan ibunya jadi otomatis apabila terjangkit virus corona, orang tuanya juga kena,” ujarnya.

Idzhar bilang, warga bukannya menjauhi, tapi lebih pada melakukan pencegahan. Sebab perlu kewaspadaan dari masyarakat terhadap Covid-19, terkhusus ke setiap orang yang datang dari daerah terinfeksi virus corona.

Pesan untuk GF, dari Idzhar, kalau tim gugus tugas Covid-19 setempat akan selalu ada untuk setiap kebutuhan selama masa karantina. “Jika yang bersangkutan perlu sesuatu kiranya dapat menghubungi kepala dusun atau pemerintah desa,” ungkap Idzhar saat dihubungi pewarta.

Dari Tim Relawan Covid-19 Desa Ulatan sendiri, Idzhar menjelaskan, sudah melakukan pencegahan melalui penyemprotan disinfektan di rumah ODP tersebut. “Tadi malam kita langsung lakukan penyemprotan di rumahnya. Kami akan lanjutkan dengan kordinasi dengan Kades, menyangkut reaksi warga terhadap ODP. Nanti akan diberikan edukasi kepada masyarakat, sehingga yang bersangkutan tidak merasa termarjinalkan,” jawabnya.

Senada dengan Idzhar Lasau. Camat Palasa, Baharudin, juga menyebut bahwa kejadian itu masih wajar, sebab tindakan warga adalah bagian dari aksi pencegahan. Bahkan menurut Baharudin, sikap masyarakat itu berlaku kepada seluruh orang yang wajib karantina. Ketika sudah selesai masa isolasi, serta dinyatakan tidak terpapar Covid-19, maka tiada lagi tindakan memicu ketersinggungan antar warga.

“Ditengah situasi pandemi ini, warga lebih hati-hati terhadap orang yang datang. Saya pikir ini bisa dimaklumi,” ucapnya.

Agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan, Baharudin berharap agar Pemdes setempat sigap memberikan pemahaman kepada semua warganya. Supaya masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan hal berlebihan. “Ini cuma butuh pemahaman dari semua pihak, termasuk pemberian edukasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kades Ulatan, Abdul Hafid, saat dihubungi Berita Sulteng, menyebut kalau tindakan warganya disebabkan ketakutan akan serangan corona. “Saya sudah sampaikan kepada tim relawan gugus tugas Covid-19 desa, untuk memberikan penjelasan atau edukasi kepada warga sekitar,” ungkap Abdul Hafid.

Terkait warga yang menjauhi keluarga ODP saat ini, menurut Abdul Hafid, hanya pemilik kios yang juga tetangga keluarga ODP. Sikap menolak melayani ibu ODP, dilakukan pemilik kios semata-mata demi kewaspadaan. Walau sesungguhnya dinilai berlebihan. “Informasi dari tim medis, kalau kondisi ODP itu saat ini tetap normal. Bahkan tidak menimbulkan adanya gejala virus corona,” kata Abdul Hafid. “Mudah-mudahan kondisinya tetap stabil hingga usai masa karantina,” harapnya.

banner 728x130

MAU KAOS KEREN? atau HOODIE JUMPER (SWEATER) DISTRO? atau TOPI HIP HOP? Cukup tinggalkan komentar, dan bagikan Artikel-Artikel terbitan Beritasulteng.com. Cenderamata diserahkan ke penerima terpilih pada 30 September 2020.