Dituntut Mundur dari Jabatan, Direktur RSUD Raja Tombolotutu Maunya Dipecat

  • Whatsapp
Rapat dengar pendapat yang dilakukan DPRD dalam lintas komisi yang difasilitasi Komisi IV, menghadirkan direktur RSUD Raja Tombolotutu, Tinombo. (F. Basrul/Berita Sulteng)

Penulis: Andi Sadam

PARIMO, Berita Sulteng– Ujung polemik di RSUD Raja Tombolotutu Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, belum ditemukan. Berbagai dampak dari banyaknya masalah yang terjadi. Dari beberapa dampak, ada sebuah keseriusan yang mengundang tawa.

Bacaan Lainnya

Ini tentang sebuah tuntutan yang dilayangkan kepada direktur RSUD Raja Tombolotutu. Dan ini juga menyangkut apa keinginan direktur bernama dr Rustam Sumanga itu. Hal yang memiliki tujuan sama, tapi beda dalam proses.

‘Lelucon’ di RS itu adalah tentang direktur RS yang dituntut mundur dari jabatannya oleh seluruh tenaga kontrak dan honorer. Sementara, direktur yang disuru mundur itu justru maunya dipecat alias diberhentikan oleh ‘boss-nya’ yang berwenang.

Jumat, 5 Juni 2020, dalam hearing lintas komisi yang difasilitasi Komisi IV DPRD Parimo, dr Rustam Sumanga mengucap hal yang mengisyaratkan ‘kegalauan’ dalam menghadapi perkara di RSUD Raja Tombolotutu. Ia juga sempat memberi gambaran seakan sudah tidak mampu lagi memikul beban saat ini. Rustam bilang kalau ia memiliki keinginan untuk dipecat saja dari jabatan direktur.

Hal menarik dalam masalah ini, walau sudah menyatakan siap meninggalkan bangku pimpinan RSUD Raja Tombolotutu, tapi Rustam tidak menyebut langkah mengundurkan diri. Katanya, ia mau kalau dipecat.

Kesiapan untuk dicopot dari jabatan itu disampaikan Rustam atas tindakan yang ia ambil terhadap sejumlah perawat dan dokter. Katanya, ada penyesalan yang ia rasakan sekarang. “Saat ini saya merasa bersalah terhadap dokter dan perawat yang ada. Dan saya siap menerima resiko bahkan untuk dipecat,” ucapnya.

Baca: Ternyata RSUD Raja Tombolotutu di-Blacklist Kemenkes

Hasrat Rustam yang siap ‘diusir’ dari RS tersebut, di hari yang sama, terbit surat tuntutan untuk Direktur RSUD Raja Tombolotutu. Surat itu memuat empat pokok gugatan. Kalau direktur RS tidak bisa memenuhi ketentuan poin-poin termuat, akan ‘dibarter’ dengan jabatan.

“Jika Poin 1 sampai poin 4 tidak dipenuhi, kami meminta dengan hormat direktur RSUD Raja Tombolotutu untuk mundur dari jabatannya,” demikian poin ke 5 yang sebagai poin penegasan dalam surat.

Baca: Dari Mogok Kerja Hingga Menuntut Lima Perkara, ini Surat Terbuka untuk RSUD Raja Tombolotutu

Desakan itu dimuat dalam surat terbuka tertanggal 5 Juni 2020, ditandatangani lebih dari seratus tenaga kontrak dan tenaga honorer. Lima poin pernyataan sikap para pengabdi di RS tersebut, semua tentang hak yang masih jadi hutang manajemen RS.

Dalam masalah ini, pekan lalu direktur dr Rustam Sumanga, kepada Berita Sulteng pernah berkata kalau salah satu pemicu persoalan yang terjadi di RSUD Raja Tombolotutu adalah pemotongan porsi anggaran RS.

Baca: Tidak Mampu Bayar Gaji, RSUD Raja Tombolotutu Berhentikan Empat Dokter

Pemangkasan anggaran sebanyak 55 persen itu dilakukan Pemerintah Daerah. Dan akibat kebijakan pengurangan pagu anggaran, memaksa Rustam Sumanga ‘berfikir keras’ yang berujung ‘sukses’ memberhentikan empat dokter umum yang masa kontraknya sedang berjalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *