FKPAPT Gelar Ritual Tahunan, Warisan 46 Tahun Silam

Aktifitas menanam mangrove oleh FKPAPT di pantai Desa Sinay, Parigi Moutong. (F. Didit Trianto)

Penulis: Basrul | Editor: Andi Sadam

PARIMO, Berita Sulteng– Sebagai bagian dari penggiat lingkungan, Forum Komunikasi Pecinta Alam Pantai Timur (FKPAPT) kembali hadir dalam bagian dari aksi yang terlaksana sejak 46 tahun silam. ‘Ritual’ itu adalah World Environmental Day atau Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Gerakan mengingati hari tersebut terjadwal pada 5 Juni, dan telah diperingati sejak tahun 1974.

Bacaan Lainnya

Sejak 48 tahun silam (tahun 1972), perdana digelar konferensi besar tentang isu-isu lingkungan yang diadakan pada 5-16 Juni 1972 di Stockholm, Swedia. Pada 15 Desember 1972, Majelis Umum PBB membuat resolusi yang menetapkan 5 Juni sebagai World Environmental Day. Dua tahun setelahnya, yaitu pada 1974, Majelis Umum PBB menetapkan, dan Sejak 1974 itu, Hari Lingkungan Hidup Sedunia dirayakan setiap tahun dengan melibatkan pemerintah, pebisnis, selebriti, dan masyarakat.

Di perayaan kali ke 46 pada 5 Juni 2020, FKPAPT memanfaatkan momen tersebut sebagai ajang reboisasi. Gerakan penghijauan oleh komunitas pecinta alam ini berupa aktifitas menanam bakau.

Aksi tanam mangrove oleh forum tersebut merupakan agenda rutin yang dilakukan setiap memperingati hari lingkungan hidup sedunia di Kabupaten Parimo, Provinsi Sulawesi Tengah.

Kali ini, FKPAPT menanam bakau di pantai Mosing, Desa Siney, Kecamatan Tinombo Selatan. “Hari ini seribu bibit mangrove yang ditanam,” kata ketua FKPAPT Didit Trianto kepada media ini, Jumat, 5 Juni 2020.

Didit bilang, penanaman bakau dilakukan bertujuan supaya lingkungan pinggir laut bisa terhijaukan, serta tidak mudah terkikis abrasi. “Bakau itu juga berguna menghambat ombak, seandainya bila terjadi tsunami,” ujar Didit, menambahkan, “Kalau bakau itu juga berfungsi menjaga ekosistem laut,” jelasnya.

Aksi menanam mangrove ini diikuti ratusan peserta perwakilan sejumlah organisasi pecinta alam. Bahkan saat kegiatan itu juga telah melibatkan kelompok pecinta alam yang siap jadi bagian dari FKPAPT (member family).

“Aksi ini direncanakan akan dilakukan secara berkala,” kata Didit yang juga menyebut kalau kegiatan tersebut merupakan bagian dari ajang silaturahmi komunitas pecinta alam di Kabupaten Parimo.

Tidak hanya tanam-tanam bakau, FKPAPT juga menggelar aksi bersih-bersih pesisir pantai di lokasi tempat penanaman. Selain demi kebaikan lingkungan, mangrove juga memberi dampak positif bagi masyarakat. “Istilahnya, ketika kita jaga dia dengan baik maka ia memberi dampak baik. Tapi ketika tidak dijaga maka akan dapat dampak buruk,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *