Ternyata RSUD Raja Tombolotutu di-Blacklist Kemenkes

  • Whatsapp
RSUD Raja Tombolotutu Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong. (F. Songulara.com)

Penulis: Moh. Aksa | Editor: Andi Sadam

PARIMO, Berita Sulteng– Tidak disangka kalau ternyata RSUD Raja Tombolotutu Tinombo, sedang berada dalam deretan daftar hitam Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Padahal, RS tersebut sebagai salah satu RS yang digadang-gadang bupati setempat bakal jadi RS mewah di Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah.

Bacaan Lainnya

banner 970x90

Status memilukan ini terbongkar saat hearing oleh DPRD Parimo terhadap pihak Dinas Kesehatan kabupaten di sekretariat dewan, Jumat, 5 Juni 2020.

Dalam agenda dengar pendapat yang difasilitasi komisi IV DPRD itu, membahas banyak hal, termasuk terkait pemecatan empat dokter umum di RSUD Raja Tombolotutu Tinombo.

dr Rustam Sumanga, Direktur RSUD Raja Tombolotutu mengungkap, sebelum terjadi serangan Covid-19, RS yang ia pimpin sudah mengalami penurun pasien. Sebab dokter spesialis yang ditugasi dari Kemenkes, berakhir masa kontraknya.

Pasca tuntasnya masa kontrak lima dokter, Kemenkes tak kunjung menugasi dokter spesialis lagi. Alasan sehingga Kemenkes tidak lagi mengirim tenaga dokter di RS yang penamaannya diambil dari nama tokoh pejuang di Parimo itu, karana adanya aduan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Laporan IDI ternyata ada kaitannya dengan dokter yang sebelumnya bertugas di RSUD Raja Tomboloututu. Katanya, dokter-dokter itu tidak memperoleh haknya. “Karena persoalan itu sehingga kami (RSUD Raja Tombolotutu) di-blacklist oleh kementrian,” curhat Rustam kepada sejumlah wakil rakyat dalam rapat.

Hak yang dimaksud Rustam ini adalah jasa medis dan keterbatasan persediaan obat-obatan yang sesuai kebutuhan dokter dalam pelayanan kesehatan. “Karena kami masuk daftar hitam Kemenkes, berdampak pada kunjungan pasien. Apalagi di situasi virus corona ini, lebih berimbas lagi,” ungkapnya.

Menyinggung pemutusan kontrak terhadap empat dokter umum, Rustam bilang itu gara-gara minimnya anggaran dari Pemda Parimo. Bahkan, tuturnya, selama ini pihak RS hanya selalu ‘dihadiahi’ janji oleh Pemda terkait penambahan anggaran.

Baca Berita: Tidak Mampu Bayar Gaji, RSUD Raja Tombolotutu Berhentikan Empat Dokter

Terungkap kalau peristiwa krisis pembiayaan di RS tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2018. Mirisnya, selain ‘iming-iming’ pemerintah itu tak kunjung terbukti, pagu anggaran di RSUD Raja Tombolotutu justru dipangkas senilai 55 persen.

Rustam memprediksi, seandainya kondisi itu terus dibiarkan berlangsung maka RSUD Raja Tombolotutu bisa tutup.

“Jika seperti ini keadaan keuangannya, rumah sakit yang saya pimpin itu bakal tutup. Padahal persoalan ini sudah beberapa kali kami sampaikan kepada Bupati Parimo, serta Sekretaris Daerah. Namun tidak pernah terealisasi,” tuturnya.

Atas tindakan yang ia ambil terhadap sejumlah perawat dan dokter, Rustam mengucap sesal. “Saat ini saya merasa bersalah terhadap dokter dan perawat yang ada. Dan saya siap menerima resiko bahkan untuk dipecat,” ucapnya.

banner 728x130

MAU KAOS KEREN? atau HOODIE JUMPER (SWEATER) Distro? atau TOPI CASUAL? Cukup tinggalkan komentar, dan bagikan Artikel-Artikel terbitan Beritasulteng.com. Cenderamata diserahkan ke penerima terpilih pada 10 November 2020.

3 Komentar