Bejo, Pesepeda Onthel Hendak Keliling Indonesia, Kini Jajaki Parigi Moutong

  • Whatsapp
Bejo, lelaki pesepeda onthel yang ‘bermimpi menjelajahi Indonesia. Dalam potret ini Bejo sedang di Desa Eeya, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng. (Fadel / Berita Sulteng)

Penulis: Fadel | Editor: Andi Sadam

PARIMO, Berita Sulteng – Di lehernya terlihat jelas keringat mengalir bebas, bahkan hingga kaos lengan panjang yang dikenakan basah seluruhnya. Peluh yang keluar sampai membasahi raga pria itu karena mengayuh sepeda onthel di bawah sengat matahari. Walau fisiknya terpantau lelah, tapi tak sedikitpun tergambar lesuh dari rautnya. Padahal usianya sudah 53 tahun.

Bacaan Lainnya

banner 970x90

“Nama saya Bejo. Mau keliling Indonesia pakai sepeda,” kata pria pesepeda yang pada hari Kamis 2 Juli, dihampiri Berita Sulteng saat berteduh di tepi jalan Desa Eeya, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah.

Tujuannya lewat di jalan Trans Sulawesi karena hendak ke Provinsi Gorontalo, kemudian lanjut ke Sulawesi Utara. Sebagaimana misinya ingin menjelajahi nusantara. “Saya ingin keliling Indonesia untuk mengenali alam nusantara dengan sepeda onthel ini,” ujar Bejo sembari mengarahkan tanganya ke arah sepeda ontel yang terparkir di sisinya.

Sebelum masuk wilayah Parigi Moutong, lelaki bertopi rimbah tersebut lebih dulu memijak Bumi Tadulako Kota Palu, Ibukota Provinsi Sulteng. Sebelumnya sudah mungintari Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Menurut kisahnya, Pulau Sulawesi merupakan pulau kedua yang didatangi. Awalnya daratan Kalimantan. “Saya star dari Tanjung Selor, Kalimantan Utara sejak Januari tahun ini. Bulan April tiba di Pulau Sulawesi tepatnya di Kota Makassar, keliling dan kemudian sampai di Kota Palu. Pada akhir Juni saya dilepas oleh teman komunitas dari Kota Palu menuju Kabupaten Parigi Moutong,” tutur Bejo yang sesekali menenggak air mineral kemasan botol persiapannya.

Pria kelahiran tahun 1967 itu meninggalkan istri dan dua orang anak di kampung halaman demi berpetualang. “Keluarga sangat mendukung, dan selama perjalanan di sela istirahat selalu berkomunikasi dengan keluarga,” ucapnya seraya mengambil telepon seluler yang disisip dalam ransel. Bejo bilang lagi, “pilihan meninggalkan keluarga itu hanya sementara. Kalau misi menjelajah alam Indonesia dengan sepeda onthel telah mencapai finish, pasti kembali demi berkumpul bersama keluarga,” kata Bejo.

Tujuan Bejo ternyata tidak semata-mata untuk menyaksikan alam Indonesia tapi juga dalam misi pelestarian tradisi bersepeda, sebab olahraga tersebut sudah merupakan budaya masyarakat. “Bahwa bersepeda itu sehat,” tegasnya.

Selama enam bulan mengembara di atas dua pulau, pria paruh baya ini mengaku menikmati perjalanannya. Bahkan setiap daerah didatangi selalu mendapat sambutan bahkan pelayanan yang membuatnya bangga, sehingga tiada kesulitan selama berlanglang buana.

“Setiap singgah di suatu daerah pasti ada teman sesama komunitas sepeda, motor, maupun otomotif membantu, termasuk memberi logistik. Karena tujuan saya juga sebagai silaturahmi sesama teman komunitas, juga masyarakat,” ungkap Bejo.

Dalam tekad lelaki asal Desa Jerta, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah itu selanjutnya akan tandang ke Maluku, Papu, hingga mendatangi titik nol Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Terhadap kondisi sepeda tua yang dinaikinya, Bejo yakin sekali bahwa benda yang ia kayuh bisa mengantarnya hingga mission complete.

“Masih banyak pulau serta daerah yang akan dilalui namun sampai kapan saya tidak mematok target. Intinya seluruh Nusantara terjelajahi,” ujar Bejo yang tidak luput dari senyum dalam bincang berbagi kisahnya di tepi jalan Trans Sulawesi saat itu.

Dalam kondisi berlumur keringat, keceriaan tidak pernah lepas dari ekspresi pria itu. Ternyata, prinsip optimis yang sudah ia tanamkan untuk ekspedisi ini menjadikannya menikmati setiap perjalanan. Rasa capek baginya bukan pengganjal. Ia bahkan berujar kalau petualangan itu memberi banyak hal, termasuk tentang rasa ikhlas.

Di ujung waktu dalam kesempatan singkat itu, Bejo menyebut satu keinginan dalam doa supaya bisa menggapai mimpinya. Harapannya tidak ada kendala selama perjalanan hingga menuntaskan misi yang bakal berakhir di Pulau Sumatera bersama sepeda tuanya.

“Semoga tidak ada halangan selama perjalanan hingga menyelesaikan misi keliling Indonesia in,” harapnya.

Bejo star dari Bulungan Tanjung Selor Kalimantan sejak 10 Januari 2020. Usai menelusur tanah Kalimantan, selanjutnya Bejo on the way Pulau Sulawesi. 8 April 2020 Bejo masuk wilayah Sulawesi Selatan.

Seperti diketahui tujuan utama Mbah Bejo—begitu ia sering disapa, selain punya hasrat mengenal lebih dekat budaya Indonesia, ia sangat ingin mengajak masyarakat untuk membudayakan hidup sehat dengan olahraga wabil khusus bersepeda.*

Pos terkait

banner 728x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *