Kepala DLH Parigi Moutong Minta Diadakan Mobil Baru

  • Whatsapp
IRFAN MARAILAH, Kepala DLH Kabupaten Parigi Moutong | (Basrul / Berita Sulteng)

Penulis: Basrul | Editor: Andi Sadam

PARIMO, Berita Sulteng– Irfan Maraila Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Parigi Moutong, pada hari Kamis 2 Juli sempat ‘curhat’ dengan pewarta, tentang fasilitas pengangkut sampah yang mereka miliki. Katanya, truk pemuat limbah rumah tanggah serta kotoran dari pasar boleh dikata tidak memadai. Besar keinginannya diberi mobil baru untuk menangani limbah tersebut.

Bacaan Lainnya

banner 970x90

‘Unek-unek’ serta permintaan truk sampah itu Irfan sampaikan kepada Berita Sulteng usai rapat bersama legislatif di gedung DPRD Parimo, Sulawesi Tengah.

Irfan memberitahu wartawan bahwa mobil sampah yang dipakai DLH mengurus kotoran di Ibukota Kabupaten Parimo adalah mobil tua yang masih pengadaan bantuan pemerintah pusat beberapa tahun lalu. Bukan hanya tidak cukup dipakai menggarap sampah yang sangat produktif di Parigi, ketersediaan Sumber Daya Manusia di DLH melebihi kuota kendaraan saat ini.

Dalam perkara urus-urus sampah, Irfan bilang sangat perlu dilakukan penambahan unit. Karena dari lima unit truk ‘hadiah’ pemerintah pusat tinggal tiga yang bisa bergerak. Dua unit sudah mogok.

Kalau penambahan armada pengumpul sampah dilakukan, katanya, bisa mengatasi masalah sampah yang selalu jadi keluhan, bahkan sorotan. Sebab ‘stok’ SDM yang ready di dinasnya sangat memadai bila ada penambahan unit.

Diuraikannya, sekarang ini ada 7 orang sopir, sementara armada hanya 3 unit. Di kondisi tidak berbandingnya antara fasilitas dengan SDM membuat orang-orang DLH berupaya semaksimal mungkin supaya tidak terjadi keterlambatan mengangkut sampah.

Hal yang jadi pendukung usulan Irfan ini juga tentang bobot produksi sampah di Kota Parigi, dimana setiap hari tiga armada tua mengangkat sampah mencapai 16 hingga 18 ton.

“Kami dari DLH berharap ada ketambahan bantuan armada dari Pemerintah Daerah sehingga masalah pengangkutan bisa berjalan sesuai keinginan serta mengatasi persoalan sampah,” harapnya.

Menyinggung retribusi atau uang ‘pungut-pungut’ dari warga pemilik sampah, Irfan bilang hal itu tidak pernah diterapkan DLH. Kalau ada transaksi terkait pemuatan sampah, mungkin saja hanya berupa pemberian sukarela dari masyarakat atau warga pemilik sampah yang diangkut.*

Pos terkait

banner 728x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *