Konvoi Prakondisi: GERAM Suru Samsurizal Tombolotutu Mundur dari Jabatan Bupati Parimo

Moh Rifal Tajwid, Jenderal Lapangan Aksi Prakondisi GERAM, saat orasi propaganda di kota Parigi, Kabupaten Parigi Moutong. (Basrul / Berita Sulteng)

Penulis: Moh Faozan | Editor: Andi Sadam

PARIMO, Berita Sulteng– Mengibarkan bendera tertulis Gerakan Masyarakat Menggugat (GERAM), gabungan pemuda dan mahasiswa asal Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah pada Rabu 8 Juli 2020 menggelar aksi prakondisi dengan isu yang menentang kebijakan hingga metode kepemimpinan Samsurizal Tombolotutu sebagai Bupati Parimo.

Bacaan Lainnya

banner 970x90

Propaganda yang dilakukan secara konvoi serta di dua titik di Kota Parigi, mengajak rakyat setempat untuk ikut menyuarakan permintaan kepada Bupati Samsurizal agar segera mundur dari jabatan bupati.

Dalam upaya prakondisi tersebut GERAM menyuarakan enam poin pernyataan sikap yang sekaligus dirilis sebagai surat terbuka teruntuk Bupati Parimo Samsurizal Tombolotutu.

Di antara enam poin itu tentang legitimasi ruang lingkup wilayah kerja seorang kepala daerah dalam hal ini bupati sebagai pucuk pimpinan tertinggi, wajib berkantor dan melaksanakan aktivitas pelayanan publik di ibukota kabupaten.

Lahirnya pernyataan melegitimasi tersebut, menurut pemuda aksi, sebab telah setahun lebih Samsurizal tidak pernah lagi terpantau berkantor. Bahkan Rumah Jabatan bupati pun dianggap hanya sebagai tempat transit oleh bupati. Dimana selama ini Samsurizal Tombolotutu lebih aktif di area Pantai Mosing Desa Siney, Kecamatan Tinombo Selatan.

Bahkan menyinggung nama Mosing, dalam pernyataan sikap tersebut juga mempertanyakan fungsi, tujuan dan azas manfaat lokasi ekowisata Mosing dan pemeliharaan lokasi ex Sail Tomini di Kayubura.

“Jika sudah tidak mampu melaksanakan amanah sumpah jabatan serta amanah kedaulatan, maka kami dari GERAM meminta dengan hormat kepada bapak Samsurizal Tombolotutu segera mundur dari jabatan Bupati Parigi Moutong,” ucap Jenderal Lapangan (Jendlap) GERAM, Moh Rifal Tajwid, dalam orasi.

Bahkan dalam publisitas itu juga mereka meminta memperjelas transparansi anggaran Covid-19 yang sampai saat ini menjadi polemik dalam dunia Kesehatan, serta membuka informasi secara terbuka tentang anggaran rehab-rekon pasca bencana 28 September 2018 pada tahun 2019.

Di aksi prakondisi itu orang-orang GERAM mengancam bakal melakukan penyegelan terhadap Rujab Bupati Parimo yang terletak di Kelurahan Loji, Kota Parigi. Wacana menyegel rujab itu nanti dilakukan ketika melaksanakan aksi akbar dengan menghadirkan jumlah massa dalam jumlah banyak.

“Kami meminta Samsurizal untuk turun dari jabatannya sebagai Bupati Parigi Moutong,” Moh Rifal Tajwid

“Ini merupakan aksi prakondisi, memanggil seluruh elemen masyarakat untuk ikut serta dalam aksi besar yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Ketika aksi akbar nanti. Kami bakal menyegel Rujab Bupati, juga kantor bupati,” ungkap Rifal yang diwawancara usai menggelar aksi pada Rabu 8 Juli.

Rifal bilang, opsi menyegel terhadap dua gedung itu dipicu bupati Samsurizal yang sudah setahun lebih tidak lagi berkantor. Rujabnya pun hanya sebagai tempat singgah. “Seakan dua bangunan itu tiada guna dan manfaat lagi oleh bupati,” ucap pemuda yang popular dengan prinsip idealisnya.

Rifal berujar bahwa GERAM mengutuk keras sikap Bupati Samsurizal Tombolotutu, karena dinilai telah menganaktirikan Kota Parigi, yang tidak lain adalah Ibukota Kabupaten Parimo.

Atas sikap Bupati Samsurizal Tombolotutu, Rifal ingin menyampaikan kepada khalayak agar masyarakat jangan terus-terusan mau dibodohi oleh Bupati Samsurizal Tombolotutu. “Oleh karena itu kami dari GERAM mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut serta dalam aksi besar yang akan melakukan penyegelan terhadap Kantor Bupati, dan Rujab Bupati Parimo dalam waktu dekat,” ujarnya.

Dia juga menyinggung soal roda pemerintahan yang menurutnya dalam keadaan tidak baik akibat ulah pemimpin daerah yang hanya ‘menyepi’ di Pantai Mosing. Samsurizal dinilai seakan tak peduli dengan kondisi masyarakatnya yang sedang menghadapi bencana pandemi, dan tidak lagi peduli akan keadaan ibukota kabupaten saat ini. “Kami meminta Samsurizal untuk turun dari jabatannya sebagai Bupati Parigi Moutong,” tegas Rifal.

Pantauan Berita Sulteng, aksi yang dimulai sekitar jam 10 pagi, mengambil rute konvoi dari jalur dua samping kantor Bappelitbangda Parimo di Bambalemo, kemudian menyisir jalur sepanjang perkantoran. Untuk dua titik orasi dilakukan di tugu merkuri titik nol Kota Parigi dan depan bekas rumah jabatan ketua DPRD di jalan Trans Sulawesi.

Sekitar dua jam rorasi propaganda itu disuarakan oleh pemuda GERAM.*

banner 728x130

MAU KAOS KEREN? atau HOODIE JUMPER (SWEATER) DISTRO? atau TOPI HIP HOP? Cukup tinggalkan komentar, dan bagikan Artikel-Artikel terbitan Beritasulteng.com. Cenderamata diserahkan ke penerima terpilih pada 30 September 2020.

1 Komentar