Kini, Adaptasi Kebiasaan Baru, Lupakan New Normal

  • Whatsapp
Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru (http://promkes.kemkes.go.id/)

Editor: Andi Sadam

Berita Sulteng – Padahal belum lama diterapkan, istilah new normal sudah harus dilupakan. Bukan hanya tidak berlaku lagi, istilah yang kalau diartikan ke bahasa Indonesia adalah “Normal Baru”, benar-benar ditiadakan oleh pemerintah di sela kebebasan yang dihantui virus corona.

Bacaan Lainnya

banner 970x90

Keputusan pemerintah menanggalkan tagline new normal berdasarkan fakta lapangan yang katanya bikin bingung banyak orang. Berdasarkan kajian, penggunaan istilah new normal yang sudah hampir memasyarakat, oleh pemerintah disebut salah. Padahal, pemilihan istilah tersebut juga oleh pemerintah. Awalnya, sebutan new normal dari pemerintah untuk dipakai dalam hidup supaya ‘berdamai’ dengan Covid-19.

Dikutip dari JawaPos.com, Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan sejak awal pemerintah telah salah memilih diksi new normal saat pandemi virus corona. Sehingga, banyak masyarakat yang binggung dengan diksi tersebut.

Akhirnya pemerintah menggantinya pilihan kata new normal dengan istilah baru yaitu Adaptasi Kebiasaan Baru. Hal ini disampaikan Yurianto saat peluncuran buku Saleh Daulay di Jakarta, Jumat 11 Juli, sebagaimana dilansir JawaPos.com.

Meski terdapat kesalahan tentang diksi, kata Yurianto, pemerintah tetap melakukan sosialisasi mengenai Adaptasi Kebiasaan Baru kepada masyarakat. Menurutnya, tidak pernah berhenti gaung new normal di mana-mana. “Dikedepankan bukan new-nya. Tapi normal-nya,” katanya.

Tersiar sejumlah pendapat, banyaknya warga bingung terhadap “new normal” lantaran memakai bahasa asing (Inggris).

Dikutip dari Kompas.com, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Brian Sriphastuti berpendapat, new normal harusnya dimaknai sebagai adaptasi perilaku dalam menerapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan sabun. “Jadi yang ditonjolkan bukan situasinya, tapi perilaku kita yang harus disesuaikan dengan situasi yang terjadi,” kata Brian.*

Tujuan Slogan

Slogan, atau sering juga disebut tagline: adalah suatu ungkapan pendek mengandung pesan, dan tidak gampang dilupakan siapa saja kalau sudah mendengar atau membacanya. Intinya gampang diingat. Dalam penerapan kebebasan pasca pademi Covid-19, slogan atau mungkin juga hastag dipandang perlu karena berlaku ketentuan dari pemerintah, yaitu protokol kesehatan Covid-19. Slogan alias kata pilihan itu kemudian diyakini memudahkan orang-orang untuk kenal sekaligus menerapkan disiplin protokol kesehatan tentang Covid-19.*

Menuju Adaptasi Kebiasaan Baru

Oleh: Theresia Irawati, SKM, M.Kes, (Direktorat Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat)

Selama tiga bulan kita hidup penuh dengan berita tentang Covid-19, di TV, radio, media sosial atau media digital, obrolan di rumah, di kantor, dan di telepon juga bicara tentang Covid-19. Berbagai respon dan reaksi ditunjukkan oleh masyarakat, ada yang sedih, cemas, takut, gemas, khawatir, marah-marah, tetapi ada juga yang tenang atau tetap percaya diri.

Covid-19 berhasil mengubah kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari baik di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di jalan, dan dimanapun. Kita dibuatnya seakan tak berdaya, karena gerak langkah kita dibatasi dengan adanya Covid-19, sehingga membuat kita tidak produktif yang berdampak pada masalah ekonomi keluarga, masyarakat, daerah dan negara.

Penyebaran Virus Corona

Covid-19 memang benar-benar luar biasa. Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus corona, sebuah makhluk sangat kecil berukuran sekitar 125 nanometer namun bisa menyebabkan kematian. Covid-19 ditandai dengan munculnya gejala batuk pilek, flu, demam, gangguan pernapasan, namun ada juga yang tidak nampak/muncul gejalanya, dan dalam kondisi parah bisa menyebabkan gagal napas dan berakhir pada kematian. Penularannya melalui droplets atau percikan batuk atau bersin.

Virus dapat berpindah secara langsung melalui percikan batuk atau bersin dan napas orang yang terinfeksi yang kemudian terhirup orang sehat. Virus juga dapat menyebar secara tidak langsung melalui benda-benda yang tercemar virus akibat percikan atau sentuhan tangan yang tercemar virus. Virus bisa tertinggal di permukaan benda-benda dan hidup selama beberapa jam hingga beberapa hari, namun cairan disinfektan dapat membunuhnya.

Penyakit ini belum ada obat/vaksinnya dan sudah menjadi pandemi yang menyebabkan banyak kematian di dunia maupun di Indonesia dan sampai saat ini kasusnya masih terus meningkat.

Untuk melawan virus hal utama yang perlu kita lakukan adalah melakukan tindakan pencegahan seperti: sering cuci tangan pakai sabun, menerapkan etika batuk/pakai masker, meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga jarak dan hindari kerumunan.

Cukup mudah, bukan? Intinya harus selalu berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kelihatannya hal ini sepele, tetapi kenyataannya masih cukup banyak yang tidak melakukan hal tersebut.

Kementerian Kesehatan beserta jajarannya di daerah tak henti-hentinya melakukan sosialisasi, edukasi kepada masyarakat agar paham apa yang harus dilakukan supaya terhindar dari Covid-19. Namun, hasilnya masih belum memuaskan karena kasusnya masih terus meningkat.

From New Normal to Adaptasi Kebiasaan Baru

Presiden RI Joko Widodo dalam pidato resminya di Istana Merdeka (15 Mei 2020) menyatakan bahwa: “Kehidupan Kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai New Normal atau tatanan kehidupan baru. ” .

Pada masa pandemi masyarakat Indonesia diharuskan hidup dengan tatanan hidup baru, yang dapat ‘berdamai’ dengan COVID-19Adapun yang dimaksud dengan New Normal adalah suatu tindakan atau perilaku yang dilakukan oleh masyarakat dan semua institusi yang ada di wilayah tersebut untuk melakukan pola harian atau pola kerja atau pola hidup baru yang berbeda dengan sebelumnya. Bila hal ini tidak dilakukan, akan terjadi risiko penularan.

Tujuan dari New Normal adalah agar masyarakat tetap produktif dan aman dari Covid-19 di masa pandemi.

Selanjutnya agar New Normal lebih mudah diinternalisasikan oleh masyarakat maka

New Normal” dinarasikan menjadi “Adaptasi Kebiasaan Baru”. Maksud dari Adaptasi Kebiasaan Baru adalah agar kita bisa bekerja, belajar dan beraktivitas dengan produktif di era Pandemi Covid-19.

Memulai Kebiasaan Baru

Apakah kita mau terus hidup dengan pembatasan? Tinggal di rumah terus? Sudah pasti jawabannya: Tidak. Tentunya, kita ingin kembali bisa bekerja, belajar, dan bersosialisasi atau aktivitas lainnya agar dapat produktif di era pandemi. Hal ini bisa dilakukan kalau kita beradaptasi dengan kebiasaan baru yaitu disiplin hidup sehat dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Kebiasaan baru untuk hidup lebih sehat harus terus menerus dilakukan di masyarakat dan setiap individu, sehingga menjadi norma sosial dan norma individu baru dalam kehidupan sehari hari.

Bila kebiasaan baru tidak dilakukan secara disiplin atau hanya dilakukan oleh sekelompok orang saja, maka hal ini bisa menjadi ancaman wabah gelombang kedua. Kebiasaan lama yang sering dilakukan, seperti bersalaman, cipika-cipiki, cium tangan, berkerumun/bergerombol, malas cuci tangan harus mulai ditinggalkan karena mendukung penularan Covid-19.

Dimana dan Apa?

Kita dituntut untuk mampu mengadaptasi/ menyesuaikan kebiasaan baru dimanapun kita berada, seperti di rumah, di kantor, di sekolah, di tempat ibadah, dan juga di tempat-tempat umum, seperti terminal, pasar, dan mal. Diharapkan dengan seringnya menerapkan kebiasaan baru dimanapun, semakin mudah dan cepat menjadi norma individu dan norma masyarakat.

Dengan demikian, kita bisa bekerja, belajar, beribadah dan beraktivitas lainnya dengan aman, sehat dan produktif. Adaptasi kebiasaan baru yang dimaksud adalah:

  • sering cuci tangan pakai sabun
  • pakai masker
  • jaga jarak
  • istirahat cukup dan rajin olahraga
  • makan makanan bergizi seimbang

Inilah pesan kunci yang perlu dilakukan secara disiplin, baik secara individu maupun kolektif agar tujuan yang dimaksud dapat tercapai.

Saatnya menjadi pelopor adaptasi kebiasaan baru.

Salam sehat… ***

Pos terkait

banner 728x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar