Relawan dari Komunitas Pecinta Alam di Parimo Ikut Baku Bantu di Luwu Utara

  • Whatsapp
Kondisi di wilayah Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan pasca hantaman banjir bandang pekan lalu.

Penulis: Basrul | Editor: Andi Sadam

PARIMO, Berita Sulteng – Sejumlah Kelompok Pecinta Alam (KPA) dari Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah membentuk barisan relawan sosial untuk warga Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan.

Bacaan Lainnya

banner 970x90

Relawan utusan komunitas penggiat lingkungan dari Parimo saat ini sudah bergerak di lokasi bekas hantaman banjir bandang di wilayah Luwu Utara. Salah satu titik sasaran bantuan relawan itu di Desa Mile, Kecamatan Baebunta. Beberapa hari di sana mereka terlapor sudah membantu pendirian fasilitas MCK darurat, juga tempat wudhu di mushollah posko pengungsi.

Selain datang baku bantu, para relawan ini datang di wilayah Masamba dengan misi membawa logistik untuk korban bencana alam banjir.

Laporan diterima Berita Sulteng pada Rabu 22 Juli, kelompok relawan dari Kabupaten Parimo akan berada di Kabupaten Luwu Utara hingga masa tanggap darurat ditutup. Rencana bertahan sementara di provinsi tetangga itu disampaikan Abd Farid melalui komunikasi jarak jauh dengan pewarta media ini.

Abd Farid sebagai koordinator relawan asal Parimo ini. Mereka yang berangkat pada Senin 20 Juli dengan jumlah personil 9 orang, itu merupakan kloter pertama.

Tim yang berangkat pertama menurut Farid, untuk melihat keadaan sekaligus memastikan kebutuhan di sana. Ketika dipastikan bahwa bantuan secara fisik sangat dibutuh, berulah relawan kloter kedua berangkat.

Aksi baku bantu yang mereka lakukan di wilayah bekas hantaman banjir bandang saat ini, menurut Farid, menerapkan sistem membagi tim menjadi dua kelompok. Tujuannya supaya jangkauan bantuan bisa luas, dan maksimal.

Hingga Rabu kemarin, menurut Farid mereka sedang menunggu kedatangan relawan kloter kedua dari Parigi. “Dua tim terbentuk saat ini selain membantu membangun fasilitas darurat sesuai kebutuhan pengungsi, juga ikut membersihkan sisa-sisa material kiriman banjir di rumah-rumah penduduk. Yang ikut membersihkan rumah warga itu bergabung dengan relawan-relawan lain,” katanya.

Farid menyampaikan, data yang mereka peroleh saat ini di Desa Mile, sebanyak 400 Kepala Keluarga atau kurang lebih 1.000 jiwa menempati pengungsian di kebun sawit Desa Mile.

Ia menyebut, selain karena panggilan hati nurani, keberadaan mereka di Luwu Utara dianggap sebagai kewajiban hidup. Prinsipnya, membantu sesama, atau menolong yang sedang tertimpa bencana seperti yang terjadi di Luwu Utara ini adalah bagian yang tidak untuk ditunda-tunda.

Diketahui, sebelum ke Sulawesi Selatan, personil relawan tersebut sudah meringankan beban warga terdampak banjir bandang di wilayah eks Kecamatan Parigi.*

banner 728x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *