Budaya Gotong-Royong Hingga Patungan: Solusi Perbaikan Jalan di Kampung ini

Upaya memperbaiki badan jalan dengan budaya gotong-royong serta pembiayaan secara patungan oleh semua penduduk di Desa Kayuboko. Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Jalan ini rusak dampak gempa tahun 2018, dan makin parah di bulan Juli 2020.

Penulis: Syarif M.R | Editor: Andi Sadam

PARIMO, Berita Sulteng – Kerusakan fasilitas umum dampak dari gempa bumi pada 28 September 2018, kini masih dirasakan warga Desa Kayuboko, Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Kerusakan badan jalan Tarende di kampung itu sudah jadi ‘suguhan’ keseharian penduduk setempat. Bahkan ketika kondisi lubang makin memanjang, hanya pejalan kaki dan roda dua yang bisa lewat.

Bacaan Lainnya

banner 970x90

Badan jalan tersebut bocor saat gempa, namun kondisi terparah hingga dikategorikan putus, terjadi sekitar awal bulan Juli 2020. Selain warga setempat, pengguna jalan dari wilayah lain—pemakai roda empat akan kerepotan, sebab harus memutar melewati jalan alternative alias lewat lorong.

“Kalau dibiarkan begitu terus, kapan bisa dipakai jalan itu, sementara kita semua butuh,” Herry Susanto Pinari

Sebab belum adanya sentuhan perbaikan dari pihak yang berwenang, pemukim di kampung tersebut, termasuk seluruh aparat desa mengambil kesimpulan perbaikan. Budaya gotong-royong yang masih terpelihara jadi pilihan supaya jalan yang hanya bisa dilewati roda dua bisa kembali dilalui kendaraan roda empat.

Hari Jumat, 24 Juli, gerakan gotong-royong star bekerja. Badan jalan selebar dua meter lebih dibongkar. Torowangan air di bawah badan jalan yang remuk yang jadi pemicu lubang, disingkirkan kemudian diganti dengan fasilitas beton baru.

Perbaikan jalan rusak secara swadaya, oleh Pemdes, BPD dan warga mengadakan gorong-gorong ukuran L40 (diameter 40 centimeter), pipa 10 inch medium A. “Semua ini diadakan secara swadaya oleh penduduk Kayuboko,” ucap ketua BPD Kayuboko, Herry Susanto Pinari kepada Berita Sulteng saat ditemui di sela sibuknya mengatur material di badan jalan, Jumat 24 Juli 2020.

Disinggung kalau hal yang mereka lakukan adalah tanggung jawab instansi terkait di pemerintahan, Herry cuma bilang kalau apa yang dilakukan Pemdes bersama BPD serta masyarakat adalah kebutuhan utama seluruh pengguna jalan di wilayah Kayuboko. Sebab itu, menurutnya, untuk apa menanti perbaikan dari yang berkewajiban memperbaiki kalau kondisi jalan sudah tak bisa dipakai melintas. “Kalau dibiarkan begitu terus, kapan bisa dipakai jalan itu, sementara kita semua butuh,” ucap Herry.

Menyangkut laporan kepada yang berwenang tentang kerusakan serta untuk memelihara ruas jalan di Desa Kayuboko, sudah dilakukan Pemdes dari waktu setelah kejadian tanah goyang 2018 lalu. Tapi tiada realisasi sejak diadukan, sampai pada keadaan badan jalan mengagah semua, bahkan hingga terlaksananya gerakan gotong-royong pada Jumat 24 Juli. “Terkait laporan serta usulan sudah beberapa kali disampaikan ke sana (instansi pemerintah terkait), tapi realisasinya belum jelas,” ungkapnya.

Lantaran hampir dua tahun berharap tindakan pemerintah kabupaten namun tak kunjung ada gerakan perbaikan, lantas lahir kesepakatan seluruh pihak yang ada di Desa Kayuboko memperbaiki sendiri jalan rusak dengan cara swadaya.

Selain gerakan patungan, tiada lagi yang bisa diharap menurut Heery. Apalagi APBDes, bukan sasarannya membiayai jalan rusak itu. Sebab menurut ketentuan, sepanjang badan jalan yang ada dirawat memakai APBD, atau mungkin APBN kalau terporsikan.

Dalam action di lapangan, Herry optimis bisa menuntaskan rehab badan jalan dengan metode kerjasama. “Mudah-mudahan tiada halangan, dan cepat kelar,” doanya.*

banner 728x130

MAU KAOS KEREN? atau HOODIE JUMPER (SWEATER) DISTRO? atau TOPI HIP HOP? Cukup tinggalkan komentar, dan bagikan Artikel-Artikel terbitan Beritasulteng.com. Cenderamata diserahkan ke penerima terpilih pada 30 September 2020.