Naik Gunung Gara-gara Melawan Buta Huruf, Rombongan ini Bermalam di Dome

  • Whatsapp
Melawan Buta Huruf
Pendidikan keaksaraan dan kesetaraan paket A, B dan C yang digelar oleh PKBM Punsu Jaya.

PARIMO, Berita Sulteng – Jumat, 4 September pekan kemarin, rombongan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, harus memanjat gunung di Kecamatan Tinombo. Ini dialami orang-orang dinas tersebut gara-gara menerapkan program melawan buta huruf.

Bahkan saat di puncak gunung yang terdapat perkampungan Suku Lauje, malam hari rombongan yang dipimpin langsung Kepala Disdikbud itu bobo di dalam fasilitas kemping (tenda dome) yang mereka bawa.

Bacaan Lainnya

banner 970x90

Kondisi ini diceritakan Kepala Disdikbud Kabupaten Parimo, Adrudin Nur kepada pewarta di Parigi, baru-baru ini. Katanya, hal itu terjadi demi tanggung jawab atas program pemerintah dalam misi mencerdaskan bangsa. Melawan ‘penyakit’ buta aksara.

Adrudin mengungkap bahwa di kawasan gunung Desa Petingke yang mereka datangi terdapat 354 orang Suku Lauje. Di sana rombongan Disdikbud mensosialisasikan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan paket A, B dan C yang digelar oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Punsu Jaya.

Pendidikan keaksaraan dan kesetaraan dibilang Adrudin, perlu terus dilakukan sebagai program melawan buta huruf. Sehingga kedepan angka buta aksara bisa menurun, bahkan tidak lagi dijumpai di Kabupaten Parimo.

“Kami terus bersosialisasi supaya seluruh warga Kabupaten Parimo bisa mengenal baca tulis dan menghitung(Calistung),” ujar Kepala Dinas yang mantan guru di Parimo itu.

Sementara, Ketua PKBM Punsu Jaya Abdul Rifai Kaeta mengatakan, pelaksanaan pendidikan oleh PKBM Punsu Jaya melibatkan peserta dari dua kecamatan, Tinombo dan Palasa. Pesertanya diklaster berdasarkan jenjang pendidikan yang diikuti.

“Untuk paket A 95 orang, paket B 145 peserta dan paket C 104 pengikut. Terkait usia yang mengikuti ujian penyesuaian, rata-rata umur 15 hingga 60 tahun,” ungkap Rifai.

Diproses pembelajaran diberlakukan protokol Covid 19 ketetapan pemerintah. Sebab pelaksanaannya berlangsung tatap muka atau luring (luar jaringan). “Pembelajaran ditengah pandemi saat ini yang mengharuskan penerapan sistem daring (dalam jaringan) dinilai tidak efektif, karena seluruh peserta didik merupakan warga yang mendiami daerah pengunungan, sehingga hanya dapat menggunakan sistim luring,” kata Rifai.

Saat pelaksanaan peserta dibentuk delapan rombongan belajar, dipandu 25 tutor.*

Pos terkait

banner 728x130

MAU KAOS KEREN? atau HOODIE JUMPER (SWEATER) Distro? atau TOPI CASUAL? Cukup tinggalkan komentar, dan bagikan Artikel-Artikel terbitan Beritasulteng.com. Cenderamata diserahkan ke penerima terpilih pada 10 November 2020.