250 Guru Pendaftar PGP di Parimo Harus Gugur

  • Whatsapp

PARIMO, Berita Sulteng – 300 orang pendaftar Program Guru Penggerak (PGP) di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah kini menunggu hasil seleksi yang dilaksanakan sebelumnya.

Melihat dari kuota penerimaan, 250 pendaftar harus gugur. Sebab hanya 50 orang diterima dari 300 peserta. Seleksi pendaftaran PGP di Parimo tercatat sebagai angkatan pertama.

Bacaan Lainnya

banner 970x90

Menurut Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parimo, Sunarti, PGP tahun ini merupakan salah satu program unggulan Dirjen GTK—Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Salah satu orientasi sehingga digerlar penerimaan lewat ujian, tidak lain untuk mencari guru-guru inovatif serta kreatif di 56 kabupaten kota di Indonesia melalui.

“Berbagai tahapan seleksi itu berlangsung ketat, bahkan independen. Guru yang lolos akan jadi penggerak menjalankan tugas dan fungsi untuk tahun 2021 mendatang,” ungkap Sunarti, baru-baru ini.

Di Sulawesi Tengah, ada dua kabupaten yang jadi bagian dari konsep baru Kemdikbud ini. Adalah Kabupaten Parimo dan Kabupaten Banggai Kepulauan. Daerah tersebut jadi pilot project PGP angkatan pertama dengan masing-masing diberi kuota 50 orang.

Dijelaskan Sunarto, sejak pendaftaran program tersebut dibuka pada Juni 2020, mendapat respon baik dari kalangan pendidik. Terbukti, 300 orang pendaftar melibatkan guru berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), non ASN, Kepala Sekolah, Pengawas, juga pelaku pendidikan di Disdikbud Kabupaten Parimo.

Dalam proses merekrut, seleksi hingga pengumuman, terselenggara secara online via website sediaan Kemdikbud. “Mulai dari seleksi administrasi, tes tulis hingga tes wawancara, semua dalam jaringan (Daring),” ungkapnya.

Saat ini, tahapan penerimaan PGP sudah sampai pada pengumuman tes tulis. Dari ratusan pendaftar, tersisa 75 orang dan masih akan disaring lagi untuk dipilih hingga menghasilkan kuota 50 orang guru penggerak.

Guru-guru yang lulus nanti akan dilatih menyelesaikan kurikulum khusus. Metode digunakan yaitu 70 persen belajar di tempat tugas masing-masing, 20 persen belajar dari teman sejawat, dan 10 persen ikut pelatihan. 

“Berdasar ketentuan-ketentuan tersebut sehingga guru penggerak adalah tenaga handal, kreatif, mampu menggerakan sesama guru, memotivasi, teladan dalam proses belajar mengajar, sehingga hasilnya bisa menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih baik lagi untuk kedepan,” ujarnya.

Dia berharapa, 50 orang kuota yang diberikan dari Kemdikbud untuk Parigi Moutong dapat terisi penuh oleh pendaftar Guru Penggerak dari Parigi Moutong, sehingga tidak terisi dengan pendaftar dari wilayah lain. *

Pos terkait

banner 728x130

MAU KAOS KEREN? atau HOODIE JUMPER (SWEATER) Distro? atau TOPI CASUAL? Cukup tinggalkan komentar, dan bagikan Artikel-Artikel terbitan Beritasulteng.com. Cenderamata diserahkan ke penerima terpilih pada 10 November 2020.