Lapas Parigi Canangkan Program Menuju WBK/WBBN

Penulis : Novita | Editor : Moh faozan

PARIMO, BERITA SULTENG– Lapas Kelas III Parigi di Desa Olaya Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, mencanangkan tiga program guna prioritas pembangunan zona integritas menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK), dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani (WBBM).

Bacaan Lainnya

Hal itu diungkapkan Kepala Lapas Kelas III Parigi, Muhammad Askari Utomo, saat memapaparkan programnya telekonferensi bersama Kementerian Hukum dan Ham Wilayah Sulawesi Tengah, Kamis (26/3).

Dia mengatakan, pada prinsipnya membangun WBK/WBBM memang harus melakukan pembenahan disegala sektor, yang tujuan utamanya memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat. Namun, untuk lebih fokusnya ada areal prioritas, agar arah pembangunan sesuai dengan tujuan.

Tiga program prioritas yang dicanangkan itu kata dia, pertama adalah peningkatan kualitas pelayanan publik melalui pelayanan terpadu satu pintu.

“Kami benahi disektor depan, atau pintu depan. Kalau bisa segala hal berkaitan dengan layanan terhadap masyarakat, jika urusannya hanya dipintu depan, cukup diselesaikan disitu saja. Jadi memangkas birokrasi,” jelasnya.

Sebab seperti yang diketahui lanjut dia, semakin panjang sebuah birokrasi, peluang untuk penyelewengan akan semakin besar. Sehingga pihaknya berupaya, hak-hak warga binaan, dan informasi bagi masyarakat, sistimnya satu pintu terpadu.

Kemudian program kedua yakni, meningkatkan sistem pengelolaan administrasi yang lebih efektif dan efisien. Ketiga, peningkatan peran program bimbingan kegiatan kerja bina narapidana.

“Kenapa kami bilang prioritas, karena dari pada kami mencoba menghidupkan kegiatan tapi tidak maksimal, lebih baik membuat satu atau dua kegiatan namun lebih bermanfaat untuk warga binaan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, bimbingan kegiatan kerja bina narapidana yang akan dilaksanakan tahun ini diantaranya pembuatan batako yang dianggap efektif. Sebab, batoko merupakan material bangunan yang sangat dibutuhkan, untuk pembangunan rumah dan lainnya.

“Adanya program ini, kurang lebih 15-20 orang warga binaan bisa terserap. Selain mereka bisa mengisi waktu luang, mereka mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya selama di Lapas,” tuturnya.

Dia berharap, pencanangan program prioritas tersebut mendapat dukungan dari pihak terkait, khususnya warga binaan, dan warga sekitar Lapas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *