banner 728x250

PMI Minta Dukungan Pemda Untuk Bangun UTD di Parimo

  • Bagikan
Sri Kandi Puja Passau - Kepala Markas PMI Parigi Moutong

Penulis : Ozhan

BERITA SULTENG – Palang Merah Indonesia (PMI) Parimo, Sulawesi Tengah akan membangun Unit Transfusi Darah (UTD), mengingat kebutuhan darah merupakan masalah setiap tahun bagi resipien atau penerima darah. Namun, membutuhkan dukungan anggaran dan peralatan donor darah.

“Ini merupakan bagian rencana jangka panjang PMI, untuk membangun UTD karena kebutuhan daerah di Parimo banyak sekali, tapi tidak terlepas dari dukungan pemerintah,” ungkap Kepala Markas PMI Parimo, Srikandi Puja Passau yang dihubungi, Selasa (27/07) malam.

Dia mengatakan, pihaknya telah melakukan komunikasi dengan Pemerintah Daerah (Pemda) melalui Sekretaris Daerah (Sekda), terkait dukungan untuk membuat UTD ke PMI.

Menurut dia, PMI telah menyiapkan lahan untuk pembangunan gedung UTD itu. Namun, masih terkendala dengan anggaran pembangunannya.

Bahkan, Sekda telah melakukan komunikasi dengan direktur RSUD Anuntaloko Parigi, peralatan donor darah di Unit Pelayanan Transfusi Darah (UPTD) disana, yang akan dialihkan ke PMI untuk kebutuhan UTD.

“Karena memang aturan Permenkes kemarin itu, rumah sakit itu hanya untuk Bank Darah, bukan unit transfuse. Hanya saja, karena ada revisi dibolehkan membuka unit transfuse itu,” jelasnya.

Kondisinya saat ini, jika ada kasus pasien membutuhkan darah dari wilayah utara Parigi Moutong, harus dirujuk hingga ke rumah sakit di ibu kota kabupaten. Padahal, di rumah sakit Tombolotutu, sudah memiliki Bank Darah, tetapi tidak difungsikan. Sebab, peralatan dan petugas belum memadai.

“Kalau UTD sudah buka, sebenarnya pasien di wilayah sana tidak harus kesini. Kita bantu menyediakan stok darah di Bank Darah rumah sakit disana,” ujarnya.

Terkait ketersediaan peralatan tambahnya, PMI saat ini tengah melakukan komunikasi dengan perusahaan Alat Kesehatan (Alkes), dengan sistem pembayaran bertahap atau dicicil. Sebab, biaya pengadaan peralatan ini sangat besar, diakuinya PMI tidak mampu membiayai menggunakan anggaran operasional.

Tetapi kata dia, jika didukungan dengan keberadaan UTD, PMI akan mendapatkan anggaran hibah dari pemerintah daerah sedikitnya jauh lebih besar. Sehingga, dapat membayar pengadaan Alkes itu.

“Kalau kita melihat Provinsi dana hibah ke PMI mencapai Rp 2 miliar. Karena memang biaya pengelolaan UTD besar, untuk honor tenaga pembantu, dokter, dan perawat,” paparnya.

Dia menjelaskan, dengan letak geografis Parimo keberadaan UPTD di rumah sakit, tidak akan maksimal. Sebab, tugas UPTD sebenarnya hanya menyiapkan darah pengganti, atau tidak dapat melakukan pengambilan darah keluar dari rumah sakit. 

Namun, berbeda dengan PMI yang dapat melakukan sosialisasi donor darah, dan melakukan pengambilan darah secara luas.

“Sejauh ini, karena kami tidak memiliki gedung dan peralatannya. Jika ada keluarga pasien butuh darah, kami memberikan kontak relawan pendonor berdasarkan data kami. Selain itu, petugas PMI secara rutin setiap tiga bulan lakukan donor darah,” tuturnya.

banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: