Masyarakat Diminta Manfaatkan Lahan Tidur Untuk Tanaman Kelor

Wakil Ketua DPRD Parimo, Faisan Badja dan beberapa anggota legislatif melakukan kunjungan kerja Rabu (4/08).

Penulis : Ozhan

BERITA SULTENG – Masyarakat Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah diminta memanfaatkan lahan tidur untuk menanam tanaman kelor, sebagai penopang perekonomiannya.

Bacaan Lainnya

“Saya mengajak masyarakat Parimo untuk menanam kelor. Karena ini merupakan peluang bagi masyarakat kita,” ungkap Faisan saat dihubungi usai melakukan kunjungan kerja di pabrik kelor di Kelurahan Tipo Kota Palu, Rabu (4/08).

Dia menyebut, tanaman kelor merupakan pekerjaan paling mudah, yang akan mendatangkan keuntungan besar bagi masyarakat. Sebab, hasil produksi kelor dapat di pasarkan ke PT. Kelor Organik Indonesia (KOI) di Kota Palu, sebagai pabrik pengolah tanaman itu.

Bahkan kata dia, pihak pabrik juga siap memberikan mesin pengering untuk petani kelor sebelum memasarkan tanamannya ke mereka.

“Makanya saya sampaikan secepatnya kepada petani kelor kita, supaya kita tidak didahului oleh daerah lain mendapatkan mesin pengering itu,” ungkapnya.

Saat ini menurut dia, petani di Kecamatan Ampibabo dan Toribulu, sudah mulai mengembangkan budidaya tanaman kelor di prakarsai oleh Kapolsek Ampibabo.

“Di Ampibabo sendiri telah memiliki mesin pengering daun kelor didatangkan dari Pabrik itu,” kata dia.

Bahkan, dia mengajak anggota legislatif lainya untuk mengkampanyekan hal itu. Sebab, produksi tanaman kelor dapat dipasarkan dengan harga Rp 50 ribu perkilo mulai dari daun, bunga hingga buahnya.

“Ternyata kandungan kelor ini begitu besar manfaatnya untuk tubuh kita. Seperti yang disampaikan oleh pihak pabrik, revolusi nutrisi itu dari kelor,” terangnya.

Selain itu tambahnya, akses masyarakat untuk memasarkan tanamannya dipermudah karena di Parimo sudah ada pengepul yang akan membeli hasil panen tanaman itu.

Dalam proses penanaman, masyarakat disarankan untuk menanam biji kelor, untuk menghasilkan akar tunggal. Sehingga, daya tahan pohonya lebih kuat, jika dibandingkan dengan menanam langsung batang kelor.

“Nutrisinya juga berbeda, lebih tinggi nurtisi hasil dari tanaman biji, ketimbang batangnya ditanam,” jelasnya.

Pihak perusahaan mengakui, hasil panen kelor di Sulawesi Tengah sangat berkualitas dan berbeda dengan daerah lain di Indonesia.

“Jadi petani nantinya, setelah buah kelor dipetik, lalu dicuci dan dibersihkan kemudian dimasukkan ke dalam pengering selama 1 kali 24 jam. Setelah itu dikemas dan dijual,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *