Dugaan Kelalaian RSUD Anuntaloko Parigi, HPA Desak DPRD Lakukan Investigasi

Moh. Safi'i Damar - Ketua Himpunan Pemuda Alkhairaat Parigi Moutong

Penulis : Novita

BERITA SULTENG – Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) Parigi Moutong, Sulawesi Tengah mendesak DPRD menelusuri dugaan kelalaian RSUD Anuntaloko Parigi, yang mengakibatkan meninggalnya pasien Covid-19 secara beruntun 7-8 Agustus 2021.

Bacaan Lainnya

“Kenapa pihak rumah sakit tidak mempersiapkan kebutuhan oksigen, dalam rangka pemenuhan suplai oksigen pasien akibat Covid-19 atau penyakit lainnya,” ungkap Ketua HPA, Moh. Safi’i Damar kepada wartawan, Senin (9/08). 

Dia menyebut, DPRD dan Satgas Covid-19 harus segera membentuk tim investigasi independen melibatkan seluruh stakeholder, untuk mengusut permasalahan ini karena menyangkut nyawa seseorang.

“Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi, itu harus dipakai. Tidak boleh ada orang dengan alasan kelalaian, sehingga menganggap kematian adalah hal lubra,” ujarnya.

Pihaknya menduga ada kelalain, dilakukan pihak rumah sakit, dalam menyiapkan kebutuhan oksigen. Padahal, Peraturan Menteri Kesehatan (Menkes)nomor 856/Menkes/SK/IX/2009 tentang standar instalasi pelayanan rumah sakit, mengatur terkait respon time dalam penanganan pasien.

“Pasien ketika masuk rumah sakit, respon time-nya paling lambat lima menit harus dapat penanganan. Bagaimana dengan oksigen yang tidak bisa dipenuhi?, dengan alasan apapun. Kita tidak bisa beralasan stok menipis, itu adalah kelalaian menurut saya,” tegasnya.

Olehnya, dia berharap pihak terkait serius menangani permasalahan ini. Apalagi, Direktur RSUD Anuntaloko Parigi sempat menyampaikan prediksi lonjakan jumlah kematian akibat Covid-19.

Seharusnya, perdiksi itu menjadi peringatan untuk seluruh stakeholder terkait dalam penanganan Covid-19, untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan.

“Berarti stok oksigen, tidak bisa disiapkan dengan jumlah dihari biasanya, karena sekarang dalam masa pandemi. Harus diperbanyak stoknya,’ ucapnya.

Pihaknya meminta, kelalaian tersebut tidak kembali terulang. Apalagi, ada alokasi anggaran dalam refokusing di APBD, untuk penanganan Covid-19. Sesuai surat edaran Menteri Keuangan mengalokasikan sebesar 8 persen, dari belanja modal.

“Berarti kalau 8 persen kita ambil dari belanja modal Rp800 milir, ada sekitar Rp80 miliar, alokasi dana Covid-19 setiap tahun di Parigi Moutong. Pertanyaan, apa alasannya? Berarti bukan penganggaran, tetapi murni kelalaian,” tandasnya.

Berdasarkan rilis Dinas Komunikasi dan Informatika Parigi Moutong, pasien meninggal dunia akibat Covid-19 dalam penanganan RSUD Anuntaloko Parigi, sejak 7-8 Agustus 2021, berjumlah 7 orang.

Namun, sesungguhnya pasien meninggal berjumlah 8 orang, satu orang lainnya tidak dilaporkan ke Satgas Covid-19, karena pemulasarannya tidak dilakukan secara protokol kesehatan.

“Pasien Covid-19 meninggal hari Sabtu sore, tidak kami laporkan karena jenazahnya dijemput keluarganya untuk dimakamkan sendiri. Pasien warga Ampibabo,” ungkap Wakil Direktur RSUD Anuntaloko Parigi, dr. Rustam, Minggu 8 Agustus 2021.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *