Perempuan Poso, Ujung Tombak Perdamaian
By beritasulteng On 2 May, 2014 At 08:10 AM | Categorized As RAGAM | With 0 Comments

foto

Lian Gogali: Perempuan Poso, Ujung Tombak Perdamaian

KONFLIK agama yang terjadi di Poso hingga penghujung 2001 benar benar meninggalkan duka kelam bagi daerah berpenduduk 250 ribu jiwa ini. Berbagai upaya perdamaian dilakukan namun letupan-letupan itu tetap terjadi hingga tahun 2006. Kondisi inilah yang menginspirasi Lian Gogali (36 tahun) untuk merekatkan hubungan Muslim dan Kristen serta meretas perdamaian di Bumi Sintuwu Maroso. Upaya Lian pun berujung pada berdirinya sekolah perempuan yang diberi nama Institut Mosintuwu.Berikut laporan, Syamsuddin.

 

Saat ditemui di sekretariat Institut Mosintuwu, Jalan Watupongga’a Kota Tentena, 18 April 2014 lalu, Lian membeberkan sejarah berdirinya sekolah yang kini memiliki lebih 200 murid yang umumnya korban konflik dan tersebar di seluruh  wilayah kabupaten Poso. Semuanya berawal ketika Lian yang prihatin atas konflik yang tak kunjung usai di Poso melakukan penelitian untuk tesis di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dalam penelitian itu, Lian banyak mendapatkan data tentang kekerasan dan trauma konflik yang dialami anak-anak dan ibu-ibu.

 

Hal inilah yang mengundang empati Lian sehingga seusai meraih gelar Master Humaniora (M.Hum) tahun 2007, ia kemudian memutuskan kembali ke Tanah Poso dan menetap di Tentena, kecamatan Pamona Pusalemba. Ia punya ide untuk menggagas dan mendirikan sebuah sekolah bagi para perempuan korban konflik. Sekolah itu diberi nama Musintuwu yang dalam bahasa setempat berarti Kebersamaan. Di akhir tahun 2009, perjuangan Lian di mulai dengan mengontrak salah satu rumah milik pejabat Pemkab Poso seharga rp2,5 juta per tahunnya. Selanjutnya ia membuat daftar penawaran kepada ibu-ibu yang akan direkrut jadi binaannya.

 

Rintangan berat pun mulai menghadang Lian. Dari 30 orang yang didatangi dan ditawarkan untuk bergabung ternyata hanya lima orang tertarik. Itupun dengan susah payah dan sempat mendapat penolakan dari suaminya. ‘’Bukan hanya itu, saya didatangi oleh suaminya dan mengancam akan menceraikan istrinya jika masih ngotot untuk ikut bergabung,’’kenangnya.

 

Namun rintangan itu tidak membuat Lian putus asa. Perempuan kelahiran 24 April 1978 ini terus berjuang dan mengajak kaum perempuan untuk bergabung. Upayanya tersebut  tidak mengecewakan, di tahun 2010 jumlah binaannya pun bertambah 10 orang sehingga totalnya menjadi 15 orang. Perlahan tapi pasti kerja keras Lian Gogali mulai menarik simpati kaum ibu-ibu. Bahkan bukan hanya di Tentena tapi juga berkembang hingga ke Kota Poso. Murid binaanya pun tidak lagi hanya beragama Kristen tapi juga Muslim dan Hindu.

 

Seperti apa metode yang digunakan sehingga mampu menarik minat para ibu-ibu jadi binaan? Lian membeberkan bahwa ada yang berbeda dengan metode dan materi pelajaran yang diberikan seperti lembaga pendidikan formal. Materi pelajaran misalnya, lebih dititikberatkan pada agama, toleransi dan perdamaian. Kaum ibu-ibu tersebut saling mengunjungi rumah ibadah seperti ke gereja, masjid dan pura. Serta saling mempelajari ajaran agama masing-masing yang intinya sama-sama mengajarkan kedamaian.

 

Demikian halnya metode pelajaran tidak hanya dilakukan di dalam ruangan tapi juga di luar ruangan. Terkadang kegiatan belajar juga dilakukan di dermaga pelabuhan bahkan hingga di tengah kebun. Hal ini membuat kaum ibu menjadi lebih rileks dan santai dalam menerima materi pelajaran.

 

Materi dan metode tersebut pun terbukti efektif bagi para murid-murid Lian.  ‘’Saya sangat merasakan manfaatnya. Dulu saya sangat emosi dan dendam kalau melihat orang berjilbab. Tapi setelah aktif di sekolah ini akhirnya saya sadar. Dan akhirnya kami sekarang hidup rukun dan damai,’’aku Martince, warga Kelurahan Bukit Bambu yang merupakan alumni angkatan pertama Sekolah Perempuan Musintuwu.

 

Martince juga mengakui sejak aktif di Sekolah Perempuan Musintuwu, dirinya tidak canggung lagi berhadapan dengan pejabat. Padahal ia hanya tamatan SLTP. Karena kemampuannya, ia bahkan sudah keliling Indonesia berbagi pengalaman. Ia juga kini melakukan penelitian tentang pengolahan hasil kebun dan pertanian.

 

Manfaat serupa juga dirasakan Yanti, jebolan angkatan pertama Sekolah Perempuan Musintuwu. Perempuan berjilbab yang berdomisili di Kelurahan Sayo, kecamatan Poso Kota   ini mengaku cukup banyak mendapatkan ilmu dari Lian Gogali. Ia kini sadar dan tak dendam lagi dengan warga Kristen. Demikian halnya dengan kemampuan ilmunya, Yanti tidak menyangka bisa berbicara dan tampil di hadapan masyarakat banyak ‘’Padahal saya dulu tidak tahu bicara dan gugup. Tapi sekarang tidak lagi. Bahkan saya berani,ujar calon legislatif .

 

Martince dan Yanti hanyalah sebagian kecil dari ratusan murid Sekolah Perempuan, kini bernama Institut Musintuwu  binaan Lian Gogali yang tidak hanya sukses membangun toleransi dan perdamaian tapi juga membangun kesetaraan gender.

 

Bukan hanya kaum ibu, Lian Gogali juga berjuang menyadarkan dan memulihkan trauma bagi anak-anak korban konflik. Diilhami nama putrinya, Sophia (6 tahun), Lian pun membuat perpustakaan kecil di sekolah binaannya. Perpustakaan tersebut menyediakan buku-buku cerita anak-anak, majalah dan buku pengetahuan umum lainnya. Setiap hari belasan anak-anak pun datang untuk membaca ataupun meminjam buku.

 

Keberadaan Institut Musintuwu ternyata kian mendapat hati masyarakat Poso. Menurut Lian, saat ini tercatat 250 murid binaan yang tersebar di 24 desa di kabupaten Poso. Dari jumlah tersebut, 70 persen diantaranya beragama Kristen, 20 persen beragama Muslim dan sisanya beragama Hindu. Semakin banyaknya jumlah murid tersebut, membuat Lian Gogali kewalahan mengatur jadwal mengajarnya. Untuk satu desa, ia terpaksa hanya bisa memberikan materi sekali seminggu.

 

Kiprah Lian Gogali dalam mengembangkan Institut Musintuwu ternyata mendapat perhatian dan tanggapan positif dari dunia luar. Melalui salah seorang peneliti asal Amerika Serikat yang bertugas di Poso, Lian kemudian diusulkan masuk nominator Coexist Award, sebuah penghargaan yang diberikan kepada pahlawan tanpa tanda jasa yang memperjuangkan isu perdamaian antar agama. Alhasil, Lian Gogali berhasil tampil sebagai pemenang dan menyisihkan 300 nominator lainnya dari seluruh dunia, 2012 silam.

 

Saat tampil menerima penghargaan di kampus Universitas New York  itu, Lian mengaku kalau apa yang diraihnya tersebut akan didedikasikan untuk kaum perempuan maupun anak-anak korban konflik di Poso. Prestasi itu tak membuatnya besar kepala tetapi menjadi cambuk untuk bekerja lebih baik dalam mewujudkan impiannya yakni kedamaian yang abadi di Poso. (*)

About -

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>