Proyek Perumahan Transmigran Senilai Rp7,8 M Diduga Bermasalah
By beritasulteng On 14 May, 2014 At 10:44 PM | Categorized As RAGAM, Sigi Biromaru | With 0 Comments
Proyek Prumahan Transmigrasi : Terlihat Puluhan pembangunan rumah Transmigrasi di Levonu Desa Lemba Tongoa, Kabupaten Sigi yang anggarannya Rp 7,8 M dari dana APBN tahun 2013 bermasalah.(Foto : Anto)

Proyek Prumahan Transmigrasi : Terlihat Puluhan pembangunan rumah Transmigrasi di Levonu Desa Lemba Tongoa, Kabupaten Sigi yang anggarannya Rp 7,8 M dari dana APBN tahun 2013 bermasalah.(Foto : Anto)

Beritasulteng.com, Sigi – Proyek  Perumahan Transmigrasi di Levonu Desa Lemba Tongoa menuai banyak masalah. Pasalnya, di lokasi proyek senilai Rp7,8 miliar bersumber dari dana APBN, itu ada beberapa  rumah yang tidak layak untuk dihuni, karena tanahnya rawan longsor. Bahkan, proyek perumahan yang seharusnya dibangun sebanyak 100 unit hanya terealisasi 60 unit.

Selain tidak sesuai dengan target pembangunan fisik, pelaksanaan proyek tersebut juga sudah melampaui tenggang waktu atau lebih dari satu bulan kontrak pekerjaan yang ditentukan.

Dari 60 unit rumah yang sudah jadi, 50 diantaranya telah dibagikan kepada warga trans lokal.  Sedangkan 10  unit dan 40 unit yang belum dikerjakan rencananya disiapkan untuk warga trans asal pulau  Jawa.

Anehnya, pekerjaan 40 unit rumah yang belum dikerjakan, ditender kembali dan dikerjakan oleh perusahaan yang sama. Padahal, proyek senilai Rp7,8 miliar tersebut meliputi pembangunan 100 unit rumah, sekolah dan tempat ibadah.

Beberapa  warga juga mengeluhkan lokasi perumahan tersebut, karena pekarangan rumah mereka masih terlihat bekas tebangan pohon besar.

“Banyak kayu besar sisa-sisa tebangan yang tidak dibersihkan. Kami butuh waktu sampai dua minggu untk membersihkannya. Makanya meskipun sudah dapat jatah rumah, masih banyak warga yang belum menempati perumahan itu,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Selain itu, beberapa rumah juga rawan ambruk diterjang longsoran cuttingan bukit mulai tergerus air yang sewaktu-waktu dapat terjadi erosi. Bangunan juga dikerjakan tanpa pondasi, bahkan sepitank untuk WC hanya dibuat galian seukuran batas lengan orang dewasa, tanpa menggunakan cor besi.
Sementara Sigit sebagai kontraktor pelaksana membantah tudingan pengerjaan proyek tesebut dikerjakan asal-asalan. namun demikian ia mengakui hanya menyelesaikan 60 unit rumah dari kontrak 100 unit rumah.

“Kan ada adendum, jadi yang 40 unit akan menuyusul dikerjakan,” ujar Sigit yang ditemui dikediamannya.

Sigit juga mengakui bangunan tersebut tanpa menggunakan pondasi, tetapi menggunakan sistem Loid yang langsung menggunakan slop untuk menopang dinding bangunan.

“Memang tidak menggunakan pondasi, tetapi menggunakan sistem Loid. hal ini karena mengingat lokasi yang sangat sulit untuk mengangkut bahan bangunan,” ujar Sigit lagi.

Warga trans di desa tersebut juga makin risau dan bingung karena peruntukan lahan usaha yang telah di tebang kayunya dan akan dijadikan kebun sekira 90 Hektar  diklaim pihak kehutanan karena sebagai kawasan  hutan lindung.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, lokasi untuk warga trans tersebut akan dipindahkan. menurut pegawai dinas kehutanan sigi yang telah memeriksa lokasi, banyak warga yang mengeluh dengan adanya pemindahan lahan berapa bulan lagi mereka menunggu untuk siap mereka tanami.(BS-02/Anto/JS)

About -

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>