Teknologi Pengolahan Pakan Ternak Ayam Berbasis Industri Resmi Di Launching

Moh.Nasir Tula (14/11/2015)

beritasulteng, Palu- Gubernur diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Dr. Elim Somba, M.Sc meresmikan Launching Hasil Kajian Aplikasi Teknologi Pengolahan Pakan Ternak Ayam Berbasis Industri Rumah Tangga dan Hasil Penelitian Alternatif Pakan Ternak Ayam Fungsional Dari Bahan Baku Lokal (Substitusi Bahan), Rabu(11/11), di Kelurahan Kabonena, Palu Barat.
Atas dilaunchingnya pakan tersebut, asisten mewakili gubernur, memberikan apresiasi atas inovasi yang telah diinisiasi Balitbangda (Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah) Provinsi Sulawesi Tengah. “Ini sesuai tugas pokok dan fungsi Balitbangda sebagai lembaga penelitian dalam menyediakan data untuk perumusan kebijakan daerah,” jelas Asisten Ekbang dalam sambutan gubernur yang dibacanya.
Menurutnya, dengan launching tersebut akan turut menginformasikan sejauhmana pengembangan pakan lokal dibandingkan pakan pabrik terhadap pertumbuhan ayam pedaging. Disamping itu, sejumlah manfaat yang tak kalah penting tambahnya seperti, terwujudnya inovasi teknologi pakan lokal, tersedianya pakan lokal dengan harga terjangkau dan pemanfaatan bahan-bahan lokal, khususnya limbah-limbah agroindustri.
Sekadar mengingatkan, asisten berpesan supaya inovasi pakan tersebut secepatnya dipatenkan. “Kalau sudah ada formulasi tolong cepat-cepat dipatenkan, jangan sampai kecolongan dengan pihak lain karena ini bisnis,” tandasnya.
Berdasarkan paparan hasil penelitian oleh Dr. Ir. Habsah, M.Sc peneliti Balitbangda. Penelitian pakan lokal sudah dimulai sejak 2014. Adapun keunggulan pakan antara lain sangat rendah lemak, mampu menggemukkan ayam kampung hingga 900 gram dalam 7 minggu dan membuat ternak jadi lebih immune (kebal) terhadap penyakit.
“Kami menggabung tepung daun kelor dicampur kunyit sebagai antibodi dalam pakan,” ujarnya.
Dilanjutkan ada 3 kelompok peternak di 3 tempat berbeda yang menggunakan pakan tersebut yakni Kabonena, Taipa dan Lasoani. Hasilnya pun bervariasi, misalnya di Kabonena, ayam yang mengkonsumsi pakan lokal selama 7 minggu bobotnya mencapai 900 gram, sedang di Taipa 876 gram dan Lasoani 600 gram.
“Biasanya permintaan rumah makan di Palu, standarnya 800-900 gram, kalau di atas 1 kg atau dibawahnya langsung ditolak,” jelas Habsah. Alasan ditolak menurutnya karena rumah makan sudah memperhitungkan harga 1 porsi ayam dengan bobot ayam supaya tidak merugi.
Sementara itu, Plt Balitbangda Ir. Tulak Sapan, M.Si dalam laporannya mengatakan pakan ternak lokal yang dibuat dapat menekan mortalitas ternak ayam sampai dibawah 5 % dan menurunkan ongkos pakan sampai 19 %. “Menurut informasi banyak peternak yang menutup usaha karena mahalnya pakan pabrik, karena itu pakan lokal ini kiranya jadi solusi alternatif,” harapnya.

Pin It

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>