Longki Hadiri Ceramah Umum Dari Mentri Pendidikan RI

Moh.Nasir Tula / Kiriman Humas Sulteng (18/12/2015)

beritasulteng, Palu- Gubernur Sulawesi Tengah, Drs. H. Longki Djanggola, M.Si menghadiri Ceramah Umum dengan pembicara langsung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Anies Rasyid Baswedan Ph.D, dalam kunjungannya ke Sulawesi Tengah, bertempat di Kantor Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Sulawesi Tengah, Kamis (17/12).
Dalam sambutannya, Gubernur Sulawesi Tengah mengucapkan rasa terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI atas perhatian yang besar kepada daerah Sulawesi Tengah yang ditunjukan dalam bentuk 3 (tiga) kali kunjungan kerja yang dilakukan dalam kurun waktu 6 bulan terakhir.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah mencanangkan gerakan penumbuhan budi pekerti melalui serangkaian kegiatan non-kurikuler, sesuai dengan peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015, yang menegaskan bahwa sekolah bukan lagi menanamkan budi pekerti pada siswa/siswinya.
“Berdasarkan laporan penelitian LPMP, mutu dan kualitas guru di Sulawesi Tengah masih sangat rendah. Namun, para guru tidak perlu malu akan hal itu. Justru sebaliknya, kiranya hal tersebut, dapat menjadi pemacu semangat dan motivasi guru di dalam meningkatkan kompetensi dan kualitasnya masing-masing.” ujar Gubernur Sulawesi Tengah.
“Saya selaku kepala daerah di Sulawesi Tengah bertanggung jawab atas semua permasalahan yang terjadi di Sulawesi Tengah, termasuk yang menyangkut dengan dunia pendidikan. Saya minta kepada para guru untuk meningkatkan kualitasnya, agar bersama-sama kita dapat memajukan pendidikan yang ada di Sulawesi Tengah.” lanjut Beliau, seraya meminta saran dan masukkan dari Mendikbud dalam peningkatan mutu pendidikan di Sulawesi Tengah.
“Semoga dengan kunjungan kerja Menteri Pendidikan dan Kebudayaan hari ini, akan menambah motivasi dan semangat para guru ataupun stakeholder pendidikan di daerah, sehingga pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan dapat menjadi nyata dalam masyarakat.” ujar Drs. H. Longki Djanggola, M.Si.
Dalam ceramah umumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan bahwa dari banyaknya faktor, guru menjadi kunci utama di dalam pendidikan. Beliau mengibaratkan guru sebagai sebuah kunci.
“Seperti halnya sebuah kunci yang berfungsi untuk membuka dan menutup suatu objek, peranan guru juga seperti itu. Yakni dapat membuka wawasan dan kemampuan belajar anak didiknya ataupun sebaliknya. Maka dari itu, untuk menghasilkan muird yang baik, diperlukan juga guru baik. Perlu diingat, guru yang menyenangkan dan menginspirasi akan diingat oleh para murid.” ujar Anies Baswedan.

Berdasarkan visi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan terkait tata kelola guru. Kinerja guru dikaitkan dengan, kompetensi, sertifikasi, dan apresiasi yang akan mereka terima. Berdasarkan visi tersebut, kinerja guru harus ekual dengan kompetensinya, kompetensi guru harus ekual dengan sertifikasinya, dan sertifikasi guru harus ekual dengan apresiasi yang diterimanya. Kinerja, kompetisi, sertifikasi dan apresiasi harus berdiri sejajar, tidak berdiri sendiri dan harus berjalan bersama.
“Menurut Saya pribadi, di luar dari 8 Standar Pendidikan Nasional, yang bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, perlu ditambahkan sebuah standar lagi, yaitu “menyenangkan”. Seperti halnya prinsip Sekolah Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantoro, yakni pembelajaran yang menyenangkan, kita perlu menerapkan hal seperti itu. Dengan terciptanya suasana yang menyenangkan, dapat menumbuhkan karakter positif bagi para siswa/siswi, baik karakter moral maupun karakter kinerja.” ujar Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar tersebut.
“Gambaran “Taman Siswa” adalah tempat belajar yang menyenangkan, layaknya seolah belajar di sebuah taman. Jika ke sekolah anak-anak akan datang dengan senang hati. Namun sebaliknya, saat pulang mereka pergi dengan perasaan berat hati.” terang Anies Baswedan.
“Republik ini membutuhkan pembelajaran, bukan sekedar angka. Mari kita tumbuhkan perasaan suka belajar bagi para murid. Angka, dalam hal ini prestasi, atau bisa disebut nilai akademis, menyusul di belakang. Namun jangan disalah artikan. Bukan berarti angka tidaklah penting, namun angka lebih mengarah kepada suatu capaian, yang menjadi proyeksi kedepan.” lanjut pria murah senyum ini.
Lebih lanjut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI menyampaikan bahwa orangtua adalah pendidik terpenting, namun bukan yang disiapkan. Guru perlu meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan para orangtua murid tentang peningkatan pendidikan bagi para anak-anaknya dalam meraih prestasi akademis maupun non-akademis.
“Saya meminta kepada para guru untuk meningkatkan kompetensi, kualitas dan profesionalisme di dalam mengajar serta memberikan ilmu para anak didik. Semua ini harus dilakukan demi pembentukan karakter serta peningkatan dan pengembangan wawasan pengetahuan anak guna tercipta generasi muda Indonesia yang berpotensi, bermoril, cerdas dan berkarakter.” tegas Anies Baswedan mengakhiri ceramahnya.

Pin It

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>