Kategori
Headline Hukrim Kriminal peristiwa

Pendemo Tewas, Polda Sulteng Uji Balistik Senpi Cari Pelaku

Penulis : Bambang Istanto

Parimo, Berita SultengSejumlah Senjata Api (Senpi) bakal diuji balistik oleh Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah (Sulteng), guna mengungkap tewasnya Erfaldi (21), saat melakukan aksi unjukrasa tolak tambang di Desa Katulistiwa, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo).

15 pucuk senpi itu kata Kabid humas Polda Sulteng, Kombes Pol. Didik Supranoto, S.I.K., digunakan saat pembubaran aksi unjuk rasa Aliansi Rakyat Tani (ARTI), dan Koalisi Tolak Tambang (KTT), Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT. Trio Kencana.

15 pucuk Senpi yang diamankan itu kata dia, akan dicocokan melalui uji balistik. Dengan tujuan mencocokan proyektil yang ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Selain lakukan uji balistik Senpi, Polda Sulteng juga akan melakukan pemeriksaan terhadap 17 personil Polres Parimo.

Dia menambahkan, perlu diketahui terkait kejadian Sabtu (12 /02) sampai ahad dini hari (13/02), dengan ini Kepolisian telah membentuk tim terdiri dari Propam, Itwasda, Krimum serta mendapatkan backup dari Laboratorium Forensic (Labfor) Makassar.

“Sekarang tim Labfor Polda Sulteng sedang melakukan olah TKP di lokasi kejadian kemarin, dan kemudian dilanjutkan dengan uji balistik,” ujar Kabid humas Polda Sulteng, Kombes Pol. Didik Supranoto, S.I.K., dalam konferensi pers, Senin, (14/2/2022).

Nantinya, perkembangan hasil uji balistik itu kata dia, bila ada yang cocok dengan 15 pucuk Senpi tersebut, maka akan dilakukan gelar perkara untuk memastikan siapa pelakunya.

Dia juga mengimbau, bagi rekan-rekan dan seluruh masyarakat pada umumnya, agar tetap tenang. Dikarenakan, permasalahan ini masih dalam proses penanganan pihak Kepolisian.

“Berikan kepercayaan kepada Polisi untuk memproses hal ini. Kepolisian akan bertindak profesional. Olehnya masyarakat tidak  boleh terprovokasi terkait hal-hal negatif, yang banyak beredar,” tandasnya.

Kategori
Headline Kriminal Nasional peristiwa

Ini TKP Anggota Ormas Dikeroyok di Jakbar, Berjarak 10 Meter dari Posko FBR

Sumber : detik.com

Berita Sulteng- Seorang anggota ormas Forum Betawi Rempug (FBR) berinisial DA (27) tewas setelah diduga dikeroyok 10 orang di Joglo, Kembangan, Jakarta Barat. Peristiwa tersebut terjadi tak jauh dari posko FBR.

Pengeroyokan itu terjadi pada Minggu (14/11/2021) di Jalan TPU Joglo RT 008 RW 03, Kembangan, Jakarta Barat. Lokasi pengeroyokan ini hanya berjarak sekitar 10 meter dari Posko FBR Joglo.

DA dibacok sekelompok orang di jalan tersebut. Pantauan di lokasi, bekas ceceran darah korban sudah ditutupi pasir.

Saksi Cerita Detik-detik Korban Dikeroyok sebelum terjadi pengeroyokan, DA sempat membeli rokok di sebuah warung yang juga berdekatan dengan posko FBR. Pemilik warung bernama Kholis (51) menyebutkan DA sempat menitipkan motornya setelah jajan di warungnya.

Kemudian, tak berselang lama, DA pergi dan berjalan kaki ke markas FBR yang tak jauh dari lokasi warung. Tidak lama kemudian, Kholis sempat mendengar suara gaduh.

“Iya, ke situ jalan, saya kan nggak tahu karena rame orang. Cuma pas ada orang mau beli pulsa begitu di sana jedor-jedor,” kata Kholis saat ditemui, Senin (15/11/2021).

Kholis menyatakansuara tersebut diduga berasal dari kaca yang hancur. Dia juga melihat saat itu DA berlarian sambil mengucap takbir.

Sebelum peristiwa tersebut terjadi, Kholis mengatakan banyak motor yang tengah mondar-mandir. Namun dia tak terlalu memperhatikan hal tersebut.

“Cuma kata orang yang lihat katanya memang sebelumnya banyak konvoi di sana,” ungkap Kholis.

Kapolsek Kembangan Kompol Khoiri mengonfirmasi adanya pengeroyokan yang mengakibatkan DA tewas itu. Khoiri menyebut korban merupakan warga setempat yang juga anggota ormas.

“Untuk sementara si korban itu kan anggota ormas, ormas FBR itu,” ujar Khoiri.

Khoiri mengungkapkan korban tewas akibat luka senjata tajam. Sedangkan penyebab pengeroyokan masih diselidiki.

Hingga saat ini, belum diketahui pelaku dari peristiwa tersebut. Namun dia memastikan pelaku diduga lebih dari 10 orang.

“Kami masih dalami itu (penyebab pengeroyokan) dugaannya seperti itu karena itu pelakunya 10 orang tapi meninggalnya karena siapanya masih dalam proses. Tapi yang jelas pelaku lebih dari 10 orang,” jelas Khoiri.

Korban kini telah dimakamkan oleh keluarganya. Polisi kini masih memeriksa saksi-saksi terkait peristiwa tersebut.

Kategori
Daerah Nasional peristiwa

Jembatan Gantung di Sulbar Rusak Diterjang Banjir, 2.000 Warga Terisolir

Sumber : detik.com

Berita Sulteng Jembatan gantung menuju Desa Lenggo, Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Sulbar) rusak parah diterjang banjir. Tingginya curah hujan dalam sepekan ini menyebabkan sungai meluap.


Rusaknya jembatan gantung tersebut, mengakibatkan 2.000 jiwa yang bermukim di Desa Lenggo terisolir.

Banjir luapan sungai menerjang Jumat malam (12/11). Terjangan banjir mengakibatkan jembatan gantung tidak dapat dilalui, karena sebagian lantainya terlepas terbawa banjir.

“Kejadian tadi malam dihantam luapan air sungai,” kata salah pemuda Desa Lenggo, Habibi kepada wartawan melalui pesan singkat, Sabtu (13/11/2021).

Habibi berharap, pemerintah segera turun tangan, membantu pembenahan jembatan gantung yang panjangnya sekitar 50 meter yang membentang di atas Sungai Masunni.

“Kami berharap kepada pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, agar segera meninjau jembatan gantung tersebut, agar bisa dibantu untuk pembenahannya,” pungkasnya.

Sementara itu, banjir juga menyebabkan puluhan rumah warga di Desa Bonra dan Desa Segerang, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, terendam banjir. Banjir disebabkan luapan Sungai Mapilli.

Banjir terjadi akibat tingginya curah hujan yang mengguyur daerah ini, sejak Jumat siang (12/11) kemarin.

“Untuk sementara ini, pada Wilayah Kecamatan Mapilli, ada beberapa desa yang terdampak banjir, tapi yang agak parah di Desa Segerang kemudian di Desa Bonra,” kata Bhabinsa Koramil 1402-02/Wonomulyo, Serma Abd Gaffar, saat dikonfirmasi.

“Kalau di Desa Segerang kurang lebih 80 rumah, kalau di Desa Bonra ini kurang lebih 15 rumah,” sambung Gaffar.

Menurut Gaffar, banjir akibat luapan Sungai Mapilli ini mulai menerjang pada Sabtu dini hari (13/11) sekitar pukul 04.00 Wita. Selain menggenangi permukiman, banjir turut merendam areal perkebunan dan persawahan warga.

Kendati sempat mengganggu aktivitas warga, saat ini ketinggian banjir yang menggenangi permukiman sudah mulai surut.

Berdasarkan pantauan wartawan, hingga saat ini ketinggian banjir yang menggenangi pemukiman warga, masih mencapai lutut orang dewasa. Warga yang rumahnya sempat tergenang banjir, mulai membersihkan sisa-sisa lumpur yang terbawa banjir.