Kategori
Headline Hukrim Kriminal peristiwa

Pendemo Tewas, Polda Sulteng Uji Balistik Senpi Cari Pelaku

Penulis : Bambang Istanto

Parimo, Berita SultengSejumlah Senjata Api (Senpi) bakal diuji balistik oleh Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah (Sulteng), guna mengungkap tewasnya Erfaldi (21), saat melakukan aksi unjukrasa tolak tambang di Desa Katulistiwa, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo).

15 pucuk senpi itu kata Kabid humas Polda Sulteng, Kombes Pol. Didik Supranoto, S.I.K., digunakan saat pembubaran aksi unjuk rasa Aliansi Rakyat Tani (ARTI), dan Koalisi Tolak Tambang (KTT), Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT. Trio Kencana.

15 pucuk Senpi yang diamankan itu kata dia, akan dicocokan melalui uji balistik. Dengan tujuan mencocokan proyektil yang ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Selain lakukan uji balistik Senpi, Polda Sulteng juga akan melakukan pemeriksaan terhadap 17 personil Polres Parimo.

Dia menambahkan, perlu diketahui terkait kejadian Sabtu (12 /02) sampai ahad dini hari (13/02), dengan ini Kepolisian telah membentuk tim terdiri dari Propam, Itwasda, Krimum serta mendapatkan backup dari Laboratorium Forensic (Labfor) Makassar.

“Sekarang tim Labfor Polda Sulteng sedang melakukan olah TKP di lokasi kejadian kemarin, dan kemudian dilanjutkan dengan uji balistik,” ujar Kabid humas Polda Sulteng, Kombes Pol. Didik Supranoto, S.I.K., dalam konferensi pers, Senin, (14/2/2022).

Nantinya, perkembangan hasil uji balistik itu kata dia, bila ada yang cocok dengan 15 pucuk Senpi tersebut, maka akan dilakukan gelar perkara untuk memastikan siapa pelakunya.

Dia juga mengimbau, bagi rekan-rekan dan seluruh masyarakat pada umumnya, agar tetap tenang. Dikarenakan, permasalahan ini masih dalam proses penanganan pihak Kepolisian.

“Berikan kepercayaan kepada Polisi untuk memproses hal ini. Kepolisian akan bertindak profesional. Olehnya masyarakat tidak  boleh terprovokasi terkait hal-hal negatif, yang banyak beredar,” tandasnya.

Kategori
Headline Kriminal Nasional peristiwa

Ini TKP Anggota Ormas Dikeroyok di Jakbar, Berjarak 10 Meter dari Posko FBR

Sumber : detik.com

Berita Sulteng- Seorang anggota ormas Forum Betawi Rempug (FBR) berinisial DA (27) tewas setelah diduga dikeroyok 10 orang di Joglo, Kembangan, Jakarta Barat. Peristiwa tersebut terjadi tak jauh dari posko FBR.

Pengeroyokan itu terjadi pada Minggu (14/11/2021) di Jalan TPU Joglo RT 008 RW 03, Kembangan, Jakarta Barat. Lokasi pengeroyokan ini hanya berjarak sekitar 10 meter dari Posko FBR Joglo.

DA dibacok sekelompok orang di jalan tersebut. Pantauan di lokasi, bekas ceceran darah korban sudah ditutupi pasir.

Saksi Cerita Detik-detik Korban Dikeroyok sebelum terjadi pengeroyokan, DA sempat membeli rokok di sebuah warung yang juga berdekatan dengan posko FBR. Pemilik warung bernama Kholis (51) menyebutkan DA sempat menitipkan motornya setelah jajan di warungnya.

Kemudian, tak berselang lama, DA pergi dan berjalan kaki ke markas FBR yang tak jauh dari lokasi warung. Tidak lama kemudian, Kholis sempat mendengar suara gaduh.

“Iya, ke situ jalan, saya kan nggak tahu karena rame orang. Cuma pas ada orang mau beli pulsa begitu di sana jedor-jedor,” kata Kholis saat ditemui, Senin (15/11/2021).

Kholis menyatakansuara tersebut diduga berasal dari kaca yang hancur. Dia juga melihat saat itu DA berlarian sambil mengucap takbir.

Sebelum peristiwa tersebut terjadi, Kholis mengatakan banyak motor yang tengah mondar-mandir. Namun dia tak terlalu memperhatikan hal tersebut.

“Cuma kata orang yang lihat katanya memang sebelumnya banyak konvoi di sana,” ungkap Kholis.

Kapolsek Kembangan Kompol Khoiri mengonfirmasi adanya pengeroyokan yang mengakibatkan DA tewas itu. Khoiri menyebut korban merupakan warga setempat yang juga anggota ormas.

“Untuk sementara si korban itu kan anggota ormas, ormas FBR itu,” ujar Khoiri.

Khoiri mengungkapkan korban tewas akibat luka senjata tajam. Sedangkan penyebab pengeroyokan masih diselidiki.

Hingga saat ini, belum diketahui pelaku dari peristiwa tersebut. Namun dia memastikan pelaku diduga lebih dari 10 orang.

“Kami masih dalami itu (penyebab pengeroyokan) dugaannya seperti itu karena itu pelakunya 10 orang tapi meninggalnya karena siapanya masih dalam proses. Tapi yang jelas pelaku lebih dari 10 orang,” jelas Khoiri.

Korban kini telah dimakamkan oleh keluarganya. Polisi kini masih memeriksa saksi-saksi terkait peristiwa tersebut.

Kategori
Daerah Headline Kriminal

Polres Parimo Tangkap Pencuri Peralatan Masjid

Penulis : Faozan Azima

Berita Sulteng– Kepolisian Resor (Polres) Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah berhasil membekuk pelaku pencurian kotak amal dan perlengkapan ibadah Masjid.

Pelaku berinisial SA (38) asal Provinsi Gorontalo kerap melakukan tindak pindana pencurian di sejumlah Masjid di Desa Tanalanto Kecamatan Parigi Selasa dan Desa Sausu Kecamatan Sausu. 

“Kami menangkap pelaku usai menerima laporan masyarakat. Selanjutnya, kami tindaklanjuti dengan memerintahkan Satuan Reskrim,” ungkap Kapolres Parimo, AKBP Andi Batara Purwacaraka, saat konfrensi pers di Makopolres Parigi Moutong, Rabu (20/10/2021).

Menurut dia, anggota Satuan Reskrim langsung melakukan untuk menangkap pelaku pencurian. Dalam tempo cepat pihaknya berhasil melakukan penangkapan terhadap pelaku.

Barang bukti yang berhasil diamankan kata dia, satu unit sepeda motor metik, lima unit amplifier. Kemudian, mixer, dispenser, jam digital, DVD masing-masing satu unit, lima unit speaker, dua unit cas dan salonnya, tiga unit kipas angina, dan sepuluh karpet.

“Kami juga amankan, obeng, gunting, martil, travo dan masih banyak barang bukti lain yang telah dijual oleh pelaku ke Provinsi Gorontalo dan kabupaten lain,” ungkapnya.

Dia menambahkan, modus pelaku yaitu berpura-pura melaksanakan sholat di Mesjid. Setelah menganggap situasi sudah sepi, barulah pelaku menggasak segala bentuk barang di dalam Mesjid termasuk kotak amal.

“Pengangan ini berawal saat patroli, tim Buser melihat motor terparkir di depan mesjid  Jami Nurul Falaah, dan mencurigakan karena bukan pada saat waktu Sholat, sekitar jam 02.00 WITA,” kata dia.

Selanjutnya, tim Buser berusaha mencari pemilik motor dan menemukan pelaku menggunakan masker TNI-Polri tergesa-gesa keluar dari dalam Masjid.

“Pelaku sempat menggertak salah satu anggota Buser. Kemudian anggota Buser mengeledah terduga pelaku, motor dan barang- barang korban,” ujarnya.

Pada saat penggeledahan ditemukan beberapa perlengkapan Masjid, dan tim melakukan introgasi terhadap pelaku.

“Pelaku akhirnya mengakui kalau ia mencuri barang itu dari dalam Mesjid diwilayah Kecamatan Torue dan Kecamatan Sausu,” jelasnya.

Pelaku sangkakan dengan pasal 363 ayat 1 ke 3 e jo 65 KUHPidana, dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.

Kategori
Daerah hukum Kriminal

Komnas HAM Sebut Oknum Petugas Lapas Parigi Langgar HAM

Penulis : Novita

Berita Sulteng– Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) RI Perwakilan Sulawesi Tengah, Dedi Askari menegaskan, tindakan penganiayaan oleh oknum petugas tehadap Warga Binaan (Wabin) di Lembagaa Kemasyarakatan (Lapas) Kelas III Parigi, merupakan pelanggaran HAM. 

“Praktek yang tegas dan nyata melanggar HAM. Hal ini sering terjadi, baik di Lapas maupun rumah tahanan kepolisian, tindakan itu tidak diatur dalam peraturan perundang-undangan,” tegas Ketua Komnas HAM RI Perwakilan Sulawesi Tengah, Dedi Askari saat dihubungi, Sabtu (9/10/2021).

Menurut dia, apabila praktek seperti itu dibiarkan terus terjadi oleh pimpinan kelembagaan, esensi Lapas sebagai institusi pembinaan masyarakat dari yang tidak baik menjadi baik, tidak akan pernah ketemu.

Sebab kata dia, bentuk pembinaan oleh oetugas itu secara tidak langsung, melanggar hak seseoarang untuk terbebas dari penyiksaan dan penganiayaan. Kemudian, melanggar hak atas rasa aman dan terhindar dari rasa sakit atau kesakitan luar biasa. 

“Di zaman seperti ini, dengan begitu banyaknya instrumen hukum mengatur tentang pelarangan tentang itu, menjadi aneh jika terus terjadi di Lapas,” ucapnya. 

Olehnya, tidak ada pilihan lain dalam penanganan persoalan itu, selain mengambil langkah tegas terhadap para pelaku, baik secara langsung atau kepala Lapas itu sendiri. 

Menurutnya, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM jangan hanya sebatas memberikan sanksi kepada lima orang pelaku. Tetapi juga harus mengevaluasi kepala Lapas. Sebab, adanya praktek kekerasan dan penganiayaan itu, merupakan cermin dari kepemimpinannya. 

Terlepas dari soal pelanggaran beberapa HAM kata dia, tindakan petugas juga telah melanggar peraturan dalam kitap undang-undang hukum pindana. Sehingga, harus di proses secara hukum oleh pihak kepolisian setempat. 

“Tidak seorang pun, warga negara itu dibeda-bedakan dalam penerapan hukum. Semua warga negara memiliki kesamaan, dan hak sama dihadapan hukum,” kata dia. 

Dia menegaskan, untuk alasan apapun praktek kekerasan, tidak dibenarkan. Apalagi, terkait dengan Wabin yang kedapatan menggunakan handphone. Sebab, persoalan itu juga menimbulkan pertanyaan, tentang ketelitian dalam pemeriksaan, terhadap keluarga Wabin saat berkunjung ke Lapas.

“Tapi bisa saja ada kemungkinan lain, jika ada oknum petugas yang mengadakan. Namun, kalau alat komunikasi itu disisipkan keluarga Wabin, praktek itu sering juga terjadi tidak terlepas dari kerjasama dengan petugas. Tidak jadi rahasia umum, satu atau dua bungkus rokok, oknum petugas sudah meloloskan itu,” tandasnya. 

Pihak Komnas HAM berjanji akan mengawal proses hukum terhadap korban

penganiayaan, dan meminta kepolisian melakukan penyelidikan dengan sebaik-baiknya, dan berkeadilan.

“Saya akan monitoring, dan lakukan komunikasi dengan Kapolres Parimo, dan Kasat Reskrimnya, untuk mengetahui perkembangan kasus itu,” pungkasnya.

Kategori
Daerah hukum Kriminal

Polisi Terus Kembangkan Penyelidikan Dugaan Penganiayaan Wabin

Penulis : Novita

Berita Sulteng– Kepolisian Resort (Polres) Parigi Moutong, Sulawesi Tengah terus melakukan pengembangan penyelidikan atas kasus dugaan penganiayaan terhadap Warga Binaan (Wabin) oleh oknum Lembaga Kemasyarakatan (Lapas) Kelas III Parigi.

“Dalam proses penanganan kasus ini kami sudah melakukan pemeriksaan beberapa orang. Pemeriksaan kami lakukan pecan kemarin di Lapas,” ungkap Kasat Resrim

Polres Parigi Moutong, AKP. Donatus Kono, saat dihubungi, Minggu 10 Oktober 2021. 

Menurut dia, saat pemeriksaan di Lapas pihaknya telah memeriksa sebanyak delapan orang, baik korban maupun terduga pelaku penganiayaan. 

Rencananya kata dia, pihaknya akan kembali melakukan pemeriksaan beberapa orang lainnya, yang sempat disebutkan namanya dalam hasil pemeriksaan sebelumnya. 

“Kemarin proses pemeriksaan untuk di Lapas sudah. Tinggal beberapa orang saksi lainnya, kami akan juga panggil ke kantor,” ujarnya. 

Diketahui, Warga Binaan yang diduga mendapatkan tindakan penganiayaan yakni, AC, DK, MI alias OJ, AJ alias KB. Kemudian, ada lima oknum petugas yang diduga menjadi pelaku penganiayaan, diantaranya AGP dan IMY.

“Kami sering dipukul. Tiap hari kami dipukul hanya karena masalah-masalah sepele. Kami bukan binatang, kami manusia ingin dibina,” ungkap salah seorang Warga binaan (Wabin), Muhammad Rizal saat ditemui, Kamis 7 Oktober 2021.  

Dia mengatakan, kejadian berawal saat warga binaan kerap mendapat penganiayaan dari oknum petugas Lapas Parigi.

Ia mengatakan, lima orang warga binaan ketahuan menggunakan Handphone jadi sasaran penganiyaan oknum petugas Lapas Parigi.

Namun menurut dia, tindakan itu dianggap bukan hal wajar dilakukan terhadap warga binaan.

Bukan hanya penganiayaan itu saja kata dia, namun juga kerap mengisi mulut mereka dengan sepatu yang digunakan petugas.

“Ada cara lain memberikan hukuman kepada kami. Bisa juga menyapu, pel lantai atau cara lainnya. Jangan masukan sepatu dimasukan di mulut kami,” ucapnya.

Dia mengaku, tindakan ini telah lama dipendam dan diluapkan dengan tindakan seperti ini agar mendapatkan keadilan.

Mereka menuntut agar lima oknum petugas itu dipindahkan ke Lapas lain dan tidak ada lagi tindakan penganiyaan serupa terjadi lagi. Selain itu meminta agar dilaporkan ke Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

“Tidak ada provokator, tidak ada yang mengarahkan kami melakukan ini. Ini sudah lama kami tahan-tahan. Kalau kami mau lari dari Lapas ini, bisa saja gerbang utama ini kami bongkar,” ujarnya.

Kategori
Kriminal

Polres Parimo Bentuk Tim Tangani Kasus Pencurian Ternak

Penulis : Ozhan

BERITA SULATENG – Kepolisian Resor (Polres) Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah telah membentuk tim khusus dalam penanganan pencurian hewan ternak yang marak terjadi belakangan ini di wilayah tersebut.

“Polres telah membentuk tim khusus dalam penanganan kasus pencurian hewan ternak, tujuannya untuk menciptakan rasa aman ditengah-tengah masyarakat,” ungkap Kasat Reskrim Polres Parimo, AKP Donatus Kono, Senin (20/07).

Dia menjelaskan, tim khusus yang dibentuk berasal dari berbagai fungsi dijajaran Polres, diantaranya Intel, Sabara, Reskrim.

Kemudian, para personel itu digabung dan dibagi menjadi beberapa regu,  ditempatkan di wilayah yang dianggap rawan terjadinya kasus pencurian hewan ternak.

“Pencurian dan memutilasi Sapi yang terjadi dibeberapa lokasi, cukup meresakan masyarakat sehingga kami terus berupaya melakukan penyelidikan,” jelasnya.

Donatus merinci, ada sekitar 34 ekor Sapi dilaporkan hilang sepanjang tahun 2021. Terdiri dari satu ekor Sapi hilang di Kecamatan Sausu, dan 22 ekor Sapi di 17 lokasi di Kecamatan Parigi.

Selanjutnya, di Kecamatan Parigi Selatan terdapat satu kejadian, Kecamatan Parigi Barat satu kejadian, Kecamatan Parigi Utara dua kejadian, Kecamatan Siniu empat kejadian dan Kecamatan Kasimbar satu kejadian.

Setelah melakukan penyelidikan dan pengembangan kata dia, pihaknya berhasil mengungkap delapan orang pelaku dari delapan tempat kejadian.

“Untuk tersangka lainnya kami masih melakukan penyelidikan. Tetapi beberapa pelaku telah kami kantongi identitas,” tuturnya.

Sebelumnya, sebanyak delapan terduga pelaku kasus mutilasi sapi di berbagai lokasi berhasil dibekuk Polres Parimo, Sulawesi Tengah.

Para terduga pelaku berinisial, MA dan SU warga Desa Silang, ME dan UL warga Kabupaten Donggala, AN warga Kelurahan Masigi, PI dan K warga Desa Mertasari, serta S warga Desa Pombalowo.

Mereka diganjar dengan pasal 363 ayat 1 dan 2, junto pasal 55, 56, 65 KUHP dengan ancaman sembilan tahun penjara.

Kategori
Kriminal

Penyeludupan Narkoba di Lapas Olaya Berhasil Digagalkan

Penulis : Ozhan

BERITA SULTENG – Lembaga Pemasyarakatan kelas II Olaya di Parigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Provinsi Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah gagalkan penyeludupan narkotika didalam lapas, disembunyikan didalam bungkusan Deodorant.

“Sekitar pukul 15:40 WITA kemarin Kamis 15 Juli 2021 anggota kami, Putu Adi Yusnawan berhasil melihat titipan barang dibawa oleh pelaku berinisial APU beralamat di Kelurahan Kampal,” ungkapnya Kepala Lapas Olaya, Muh. Askari Utomo saat dihubungi, Jumat (16/7)

Dari hasil penggeledaan menurut dia, petugas menemukan satu sachet plastik diduga Narkoba jenis Sabu, serta satu sachet berisi 1 butir pil berbentuk matahari berwarna hijau muda, disembunyikan didalam deodorant Merk Rexona. Barang milik itu, merupakan milik salah satu narapidana berinisial AC.

Saat dilakukan penggeledahan terhadap barang titipan kata dia, seketika terlihat normal seperti barang keperluan pribadi umumnya berupa sabun mandi, sikat dan pasta gigi, deodorant merek Rexona, deterjen, susu sachet.

Menurut dia, selama ini narapidana AC tidak pernah dibesuk oleh sanak keluarganya. Sebab, keluarga narapida berada di Kecamatan Moutong.

Hal ini menimbulkan kecurigaan, membuat petugas P2U memutuskan untuk menggeledah kembali barang titipan itu.

“Hasil pemeriksaan sementara Narapidana AC mengaku itu adalah barang titipan milik Narapidana lainnya berinisial AS yang dititipkan kepada dirinya,” jelasnya.

Untuk penyidikan dan pengembangan selanjutnya lanjutnya, kasus itu telah dilaporkan kepada pihak Polres Parimo disertai dengan barang bukti juga diserahkan Kepala Pengamanan Lapas Parigi.

Meskipun ditengah pandemi masih berlangsung, upaya penyelundupan narkotika ke dalam Lapas dan Rutan tidak surut dengan modus beragam.

“Salah satunya melalui barang titipan karena selama pandemi, karena kunjungan tatap muka  ditiadakan dan diganti dengan kunjungan online,” tutupnya.

Kategori
Daerah Kriminal Parlemen

Soal Pengrusakan Mangrove, Sayutin : Penegakan Hukum Jangan Pandang Bulu

Penulis : Ozhan

BERITA SULTENG – Ketua DPRD Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, Sayutin Budianto menegaskan, penegakan hukum terhadap pelaku pengrusakan tanaman Mangrove di wilayah Teluk Tomini, harus dilakukan secara menyeluruh dan jangan pandang bulu.

“Saya bersepakat dengan statement Bupati, yang mendorong Aparat Penegak Hukum (APH), untuk tegas terhadap pengrusakan Mangrove di wilayah Kabupaten Parimo,” ungkap Sayutin Budianto saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (23/06).

Penegakan hukum yang dilakukan oleh APH, jangan memandang siapapun sebagai pelaku pengrusak tanaman Mangrove. Baik masyarakat, pelaku usaha, pebisnis hingga pejabat harus diberikan tindakan yang tegas.

“Pengrusakan dari segi apapun dan siapapun pelakunya, harus ditindak tegas,” tandasnya.

Menurut dia, jika melakukan investasi di kawasan Mangrove, tentu melalui prosedur dan mekanisme yang harus dipenuhi terlebih dahulu, seperti izin. Hal ini, bukan maksud menutup akses bagi investor, atau pengusaha untuk melakukan pengembangan di kawasan Mangrove di Teluk Tomini.

Hanya saja, berdasarkan sepengetahuannya berinvestasi di kawasan tersebut, seharusnya mengikuti jalur tanaman Mangrove, tidak melakukan tindakan merambah dan merusaknya.  

“Justru membangun kawasan Mangrove berbasis wisata merupakan ide yang luar biasa, namun tidak merusak habitatnya. Silahkan melakukan investasi didalam kawasan Manggrove,” ujarnya.

Terkait hal itu, pihaknya juga mendorong Dinas Lingkungan Hidup melakukan investigasi terkait pengrusakan, pembabatan tanaman Mangrove di wilayah Kabupaten Parimo.

Sebelumnya, Bupati Parimo, H. Samsurizal Tombolotutu, mengimbau masyarakat Parigi Moutong tidak melakukan tindakan pengrusakan tanaman Mangrove di sepanjang Teluk Tomini.

“Saya imbau masyarakat untuk tidak merusak atau menebang pohon manggrove, karena itu sama halnya merusak alam,”kata Samsurizal Tombolotutu, di Lolaro, baru baru ini.

Hingga kini, masih ditemukan masyarakat yang berani menebang pohon Mangrove. Padahal itu merupakan tanaman yang seharusnya dilentarikan demi kehidupan keragaman biota laut, dan untuk kehidupan anak cucu kelak.

Bahkan, aparat penegak hukum, diminta untuk tegas melakukan penindakan kepada siapa saja yang merusak alam, termasuk merusak tanaman Mangrove.

Kategori
Headline Hukrim Kriminal

Sidang Kasus Korupsi Aset DKP, Saksi Dukung Dakwaan JPU

Penulis : Novita

PARIMO, BERITA SULTENG– Sidang kasus dugaan tindakpidana kosupsi aset DKP di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Provinsi Sulawesi Tengah terus bergulir di Pengadilan Negeri Kota Palu.

Pada sidang yang mengagendakan pemeriksaan saksi pekan kemarin, seluruh saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendukung dakwaan dalam kasus tersebut.

“Semua saksi yang kami hadirkan, alhamdulilah mendukung dakwaan kami,”ungkap Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Parimo, Muhammad Tang yang ditemui Berita Sulteng diruang kerjanya, Rabu (24/3).

Dia mengatakan, dalam agenda sidang pekan kemarin pihaknya menghadirkan sebanyak empat orang saksi, yang seluruhnya merupakan pengelola koperasi.

Menurut dia, dalam keterangan yang disampaikan para saksi, membenarkan bahwa memang aset-aset tersebut bukan atas nama koperasi, melainkan individu.

“Nanti pada agenda sidang berikutnya, masih pemeriksaan saksi-saksi. Karena kebetulan, sidang kami bertepatan dengan sidang KPK, terkait Bupati Banggai Laut. Jadi kami menyesuaikan dengan agenda pengadilan,” jelasnya.

Sebelumnya juga kata dia, telah diperiksa beberapa saksi dari pengelola inti koperasi, dalam keterangan mereka bahwa pengelola koperasi memang juga secara individu atau lebih kepribadi.

Sementara aset-aset lanjut dia, pada saat masuk tahap penyidikan tidak lagi ditemukan, selain aset pemerintah daerah yang telah disita oleh pihaknya.

Dia menambahkan, pada agenda sidang keempat nanti pada tanggal 25 Maret 2020 (besok), pihaknya akan menghadirkan sejumlah bendahara pada pengelolaan pabrik es.

“Seperti yang diketahui, ada dua objek perkara dalam penanganan kasus tersebut, yakni pabrik es dan dua unit kapal,”tuturnya.

Sebelumnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Parimo resmi menahan tiga tersangka kasus dugaan Korupsi aset di DKP tahun 2012 silam, dengan kerugian negara sebesar Rp. 2,1 Miliar. Ketiga tersangka tersebut yakni inisial SS, HL, dan Inisial MT.

Ketiga tersangka tersebut yakni inisial SS merupakan Ketua Koperasi Tasibuke dan juga saat ini menjabat Wakil Ketua II DPRD Parimo, inisial HL sebelumnya menjabat Kadis DKP Parimo tahun 2012 silam dan inisial MT adalah bendahara Koperasi Tasibuke.

Ketiganya, dikenai pasal 2 ayat (1) Jo pasal 18 subsider pasal 3 Jo pasal 18 UU no 20 tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Jo  pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP Jo pasal 65 ayat (1) KUHP.

Kategori
Daerah Kriminal

6 Terduga Teroris Ditangkap di Gorontalo

Sumber: Kronologi.id

PARIMO, Berita SultengGORONTALO- Detasemen Khusus (Densus) 88 dikabarkan telah menahan enam orang warga Kabupaten Pohuwato yang diduga teroris pada Jumat, 27 November 2020.

Kejadian ini dibenarkan Kepala Desa Buntulia Jaya, Rahmawati Polumulo. Kepada Kronologi.id, ia mengakui jika ada penangkapan terhadap sejumlah warga desanya.

Dari enam orang tersebut, kata dia, empat orang merupakan warga Desa Buntulia Jaya, satu warga Desa Duhiadaa, dan yang satu adalah warga Marisa.

“Yang empat itu warga saya Desa Buntulia Jaya yang 3 ditangkap di desa saya kemudian satu yang satu ditangkap di Kecamatan Randangan, yang satunya warga Desa Duhiadaa dan yang satunya warga Desa Buntulia,” kata Rahmawati.

Peristiwa penangkapan tersebut kata dia, terjadi sekitar pukul 09:00 WITA dan saat penggerebekan petugas juga menyita sejumlah barang bukti berupa senjata rakitan.

“Penangkapan sekitar pukul 09:00 Wita kemudian ditemukan dua senjata rakitan dan beberapa panah wayar di lokasi,” kata Rahmawati.

Sementara, berdasarkan informasi yang di dapatkan Kronologi.id dari Humas Polda Gorontalo, bahwa jumlah warga yang ditahan ada tujuh orang.

“Iya benar ada tujuh orang yang diamankan. Untuk keterangan lengkap nanti, pihak Mabes Polri yg akan menyampaikan,” kata Kabid Humas Polda Gorontalo, Kombes Pol Wahyu Tricahyono.*

Naskah Asli Terbitan Kronologi.id: klik sini